Langsung ke konten utama

fitokimia lada hitam (piper ningrum)





BAB I


PENDAHULUAN


I.I Latar Belakang


Indonesia adalah salah satu negara yang dikenal dengan alamnya yang kaya dengan tanaman berkhasiat untuk pengobatan penyakit secara tradisional, salah satunya adalah tanaman lada hitam (piper ningrum L) Supaya obat tradisional dapat diterima di kalangan praktek kedokteran, maka pengembangan terus didasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan obat dalam kedokteran modern. Hasil-hasil yang secara empirik harus pula didukung oleh bukti-bukti ilmiah adanya manfaat klinik obat serta keamanan pemakaian pada manusia.

Tanaman lada hitam (piper ningrum L) merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki banyak manfaat, sehingga menarik perhatian para ahli untuk meneliti dan mengembangkannya dalam rangka eksplorasi obat baru yang berasal dari alam. Sejauh ini bukti ilmiah efek herba pegagan sebagai antipiretik belum diketahui. Tanaman pegagan seringkali dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai obat alternatif untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti wasir, demam, pembengkakan hati atau liver, bisul, darah tinggi, penambah daya ingat, campak, amandel, sakit perut dan kurang nafsu makan. Penelitian tentang tanaman obat di Indonesia untuk pengobatan demam memang sudah banyak dilakukan, tetapis penelitian tentang tanaman pegagan untuk pengobatan demam belum dilakukan  Dengan dasar inilah yang mendorong peneliti melakukan penelitian ini sehingga diharapkan dalam pegagan dapat digunakan sebagai obat alternatif yang berkhasiat sebagai antipiretik yang berguna bagi perkembangan pengobatan tradisional terutama dalam perkembangan ilmu pengkulturan tanaman.

Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan, termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan umum, fitokimia memiliki definisi yang lebih sempit. Fitokimia biasanya digunakan untuk merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tetapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Karenanya, zat-zat ini berbeda dengan apa yang diistilahkan sebagai nutrien dalam pengertian tradisional, yaitu bahwa mereka bukanlah suatu kebutuhan bagi metabolisme normal, dan ketiadaan zat-zat ini tidak akan mengakibatkan penyakit defisiensi, paling tidak, tidak dalam jangka waktu yang normal untuk defisiensi tersebut.







 


I.II  Tujuan Praktikum


a. Mahasiswa mampu melakukan proses ekstraksi dengan metode refluks

b. mahasiswa mampu melakukan fraksinasi dan separasi unuk dapat mengisolasi senyawa alkaloid dari buah merica (piper nigrum L).

c. mahasiswa mampu melakukan identifikasi dan karakterisasi senyawa alkaloid hasil isolasi]





BAB II


TINJAUAN PUSTAKA


II.I Klasifikasi Tumbuhan


            Buah lada hitam mengandung bahan aktif seperti amida fenolat, asam fenolat, dan flavonoid yang bersifat antioksidan sangat kuat. Selain mengandung bahan-bahan antioksidan, lada hitam juga mengandung piperin yang diketahui berkhasiat sebagai obat analgesik, antipiretik, anti inflamasi, serta memperlancar proses pencernaan (Meghwal dan Goswami, 2012).

Kandungan lada hitam sangat beranekaragam dan piperin merupakan kandungan utama serta kavisin yang merupakan isomer dari piperin.  Piperin adalah senyawa alkaloid (Evan, 1997) yang paling banyak terkandung dalam lada hitam dan semua tanaman yang termasuk dalam famili Piperaceae.  Senyawa amida (piperin) berupa kristal berbentuk jarum, berwarna kuning, tidak berbau, tidak berasa, lama-kelamaan pedas,

Larut dalam etanol, asam cuka, benzena, dan kloroform  (Amaliana, 2008).   Piperin memiliki manfaat sebagai anti-inflamasi, antiarthritik (Bang et al., 2009; Sudjarwo, 2005), analgesik (Sudjarwo, 2005), depresan sistem safaf pusat dan anticonvulsan(Deepthi et al., 2012).

Kombinasi zat-zat yang terkandung mengakibatkan lada hitam memiliki rasa pedas, berbau khas dan aromatik.  Kandungan zatyang memberikan warna, bau dan aroma dalam lada hitam adalah α-terpinol, acetophenone, hexonal, nerol, nerolidol, 1,8 cineol, dihydrocarveol, citral, α-pinene dan piperolnol (Murthy dan Bhattacharya, 2008).  .Piperin memiliki banyak efek farmakologi yaitu sebagai antiinflamasi, antimikroba, hepatoprotektor, antikanker dan meningkatkan efek antioksidan sel.  Piperin mampu melindungi sel dari kanker dengan mengikat protein di mitokondria sehingga memicu apoptosis tanpa merusak sel-sel yang normal melalui peningkatan aktivitas enzim antioksidan seperti superoxide dismutase, catalase dan glutathione peroxidase (Selvendiran et al., 2003).  Piperinjuga berkhasiat sebagai antioksidan, antidiare, dan insektisida (Namara, 2005). 

Lada hitam juga mengandung alkaloid, flavonoid, dan komposisi aromatik, dan senyawa amida (Agbor et al., 2006). Struktur senyawa piperin (Epstein, 1993)Flavonoid merupakan golongan metabolit sekunder yang terbesar dalam dunia tumbuhan dan termasuk golongan polifenol.  Senyawa flavonoid adalah senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon, terdiri dari 2 cincin benzena yang dihubungkan menjadi satu oleh rantai yang terdiri dari 3 atom karbon yang juga dapat ditulis sebagai sistem C6 – C3 – C6.  Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara mendonasikan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat logam, berada dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon (Cuppett et al.,1954).  Sebuah studi mengenai analisis struktur persenyawaan genus Piperaceae, telah diidentifikasi 5 amida fenolat dari Piper nigrum, 7 senyawa dari P. retrofractum dan 2 senyawa dari P. baccatum.

Semua senyawa amida fenolat tersebut memiliki aktivitas antioksidan yang lebih efektif daripada antioksidan alami yaitu α− tokoferol.  Satu senyawa amida fenolat yakni feruperine memiliki aktivitas antioksidan yang sama tingginya dengan antioksidan sintetik butil hidroksi anisol (BHA) dan butil hidroksi toluena (BHT).  Contoh senyawa amidafenolat antara lain acetyl coumaperine, NTrans-feruloyl piperidine, N-Trans-feruloyl tyramine,dan piperic acid   (Nakatani et al.,1986 Asam fenolat merupakan salah satu jenis metabolit sekunder yang banyak ditemukan dalam berbagai jenis tumbuhan.  Turunan asam hidroksibenzoat dan asam hidroksisinamat adalah jenis asam fenolat yang banyak terdapat pada tumbuhan.  Contoh senyawa asam fenolat adalah asam p-kumarat Seperti senyawa flavonoid, asam fenolat menetralkan radikal bebas dengan melepaskan proton (atom hidrogen) (Mattila dan Helstrom, 2006).

Kandungan kimia lain dalam lada hitam adalah saponin, minyak atsiri, kavisin, resin, zat putih telur, amilum, piperilin, piperolein, poperanin, piperonal, dihdrokarveol, kanyofillene oksida, kariptone, trans piocarrol, danminyak lada.  Lada hitam banyak dimanfaatkan sebagai rempah-rempah danobat. Lada juga memiliki manfaat untuk kesehatan, antara lain melancarkanpencernaan dengan meningkatkan sekresi asam lambung (Zeladmin, 2012),melonggarkan saluran pernapasan,dan melancarkan aliran darah di sekitarkepala. Lada hitam termasuk bahan alami yang berpotensi sebagai afrodisiak.Hal ini disebabkan kandungan piperin yang meningkatkan gairah seks (Yunita, 2010).

Klasifikasi Lada Hitam 

Menurut Tjitrosoepomo (2007), klasifikasi tanaman lada adalah sebagai berikut :

Kingdom  : Plantae 

Divisi   : Spermatophyta 

Subdivisi : Angiospermae 

Class  : Dicotyledoneae 

Ordo   : Piperales

Familia  : Piperaceae

Genus  : Piper

Species  : Piper nigrum L





II.2 Skrining Fitokimia


            Skrining fitokimia atau penapisan kimia adalah tahapan awal untuk mengidentifikasi kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, krna pada tahap ini kita bisa mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung tumbuhan yang sedang kita uji/teliti.

Metode yang digunakan dalam skrining fitokimia harus memiliki persyaratan :

a.       Metodenya sederhana dan cepat

b.       Peralatan yang digunakan sesedikit mungkin

c.        Selektif dalam mengidentifikasi senyawa-senyawa tertentu

d.       Dapat memberikan informasi tambahan mengenai keberadaan senyawa tertentu dalam kelompok senyawa yang diteliti.



Golongan senyawa kimia dapat ditentukan dengan cara:

1.       Uji warna

2.       Penentuan kelarutan

3.       Bilangan rf

4.       Ciri spektrum uv

5.       Namun secara umum penentuan golongan senyawa kimia dilakukan denga cara uji warna dengan menggunakan pereaksi yang spesifik karena dirasakan lebih sederhana.

Senyawa kimia berdasarkan asal biosintesis, sifat kelarutan, gugus fungsi digolongkan menjadi :

·         Senyawa fenol, bersifat hidrofil, biosintesisnya berasal dari asam shikimat

·         Terpenoid, berasal dari lipid, biosintesisnya berasal dari isopentenil pirofosfat

·         Asam organik, lipid dan sejenisnya, biosintesisnya berasal dari asetat

·         Senyawa nitrogen, bersifat basa dan bereaksi positif terhadap ninhidrin atau dragendorf

·         Gula dan turunannya

·         Makromolekul, umumnya memiliki bobot molekul yang tinggi



Sedangkan berdasarkan biogenesisnya senyawa bahan alam dikelompokkan menjadi :

·         Asetogenin : flavonoid, lipid, lignan, dan kuinon

·         Karbohidra : monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida

·         Isoprenoid : tepenoid, steroid, karotenoid

·         Senyawa mengandung nitrogen : alkaloid, asam amino, protein, dan nukleat



Dari semua kelompok senyawa, skrining fitokimia umumnya hanya dilakukan terhadap kelompok senyawa fenol, terpenoid, dan senyawa nitrogen.

1.      Senyawa fenol

Senyawa fenol ditandai dengan struktur cincin aromatik yang mengandung satu atau dua penyulih hidroksil. Cendrung mudah larut dalam air, contoh senyawa : polifenol, flavonoid, tanin dan quinon.





2.      Senyawa terpenoid

Terpenoid  tersusun dari molekul unit isoprena (c5), digolongkan berdasarkan jumlah isoprena dari senyawa tersebut, seperti: monoterpen, dua isopren (c10), tiga isopren (c15), empat (c20), c25, c30, c35, c40 :

·         Monoterpen (c10) dan seskuiterpen (c15) : mudah menguap, komponen minyak atsiri

·         Diterpen (c20) : lebih sukar menguap

·         Triterpen (c30) : sterol dan saponin (senyawa yang tidak menguap)

Pigmen karetonoid : tetraterpenoid (c40).



3.       Senyawa nitrogen

Senyawa nitrogen yang ada pada tumbuhan seperti : asam amino, amina, alkaloid, glikosida, sianogen, porfirin, purin, piridin, sitokinin dan klorofil (pigmen porifirin), tetapai kelah terbesar dari senyawa nitrogen adalah alkaloid.



Masalah pada skrining fitokimia biasanya adalah kesalahan menafsirkan hasil analisis pengujian/skrining, seperti :

a.       Reaksi positif palsu adalah hasil pengujian menyatakan ada (positif), tapi sebenarnya tidak ada (negatif), hal ini bisa disebabkan kesalahan alat, atau pengaruh senyawa yang memiliki kesamaan sifat maupun struktur atom yang identic

b.       Reaksi negatif palsu adalah hasil pengujian menyatakan tidak ada (negatif), tapi sebenarnya ada (positif), hal ini bisa disebabkan kurang sensitifnya alat, atau karena kadar didalam bahan uji terlalu sedikit, atau bahan ujinya (ekstrak simplisia) tidak memenuhi syarat, oleh karena itu senyawa yang tadinya ada hilang/rusak karna reaksi enzimatik maupun hidrolisis.

 


II.3 Metabolit Sekunder


Senyawa metabolit sekunder  merupakan senyawa yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya. Metabolit sekunder adalah berbagai macam reaksi yang produknya tidak secara langsung terlibat dalam pertumbuhan normal. Dalam hal ini metabolit sekunder berbeda dengan bahan metabolit intermediet yang memang merupakan produk dari metabolisme normal.

       Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda, bahkan satu jenis senyawa metabolit sekunder hanya ditemukan pada satu spesies  dalam suatu kingdom. Senyawa ini selalu dihasilkan tetapi pada saat dibutuhkan atau pada fase-fase tertentu. Fungsi metabolisme sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan misalnya mengatasi dari hama dan penyakit.





       Senyawa metabolit sekunder banyak sekali jumlahnya. Menurut Springob dan Kutchan (2009), ada lebih dari 200000 struktur produk alamiah atau produk metabolit sekunder. Untuk memudahkan, perlu dibuat klasifikasi. Ada beberapa cara klasifikasi bisa dibuat, seperti berdasarkan sifat struktur, asal-usul biosintesis, atau lainnya.

       Berdasarkan sifat strukturnya, Hanson (2011) membagi metabolit sekunder ke dalam 6 golongan, yaitu :

1) Poliketida dan asam lemak,

2) Terpenoid dan steroid,

3) Fenilpropanoid,

4) Alkaloid,

5) Asam amino khusus dan peptida, dan

6) Karbohidrat khusus.

       Berdasarkan kandungan N, Wink (2010) membagi metabolit sekunder ke dalam dua kelompok besar, yaitu:

1) Metabolit sekunder yang mengandung N

2) Metabolit sekunder yang tidak mengandung N.

       Berdasarkan asal-usul biosintesisnya, Springob dan Kutchan (2009) membagi metabolit sekunder menjadi empat kelompok, yaitu :

1) Alkaloid,

2) Fenilpropanoid,

3) Poliketida, dan

4) Terpenoid.



 Kandungan Metabolit Sekunder

       Secara umum kandungan metabolit sekunder dikelompokkan berdasarkan sifat dan reaksi khas suatu metabolit sekunder dengan pereaksi tertentu. Adapun pengelompokkan kandungan metabolit sekunder pada bahan alam hayati adalah sebagai berikut :

1.  Alkaloid

     Alkaloid merupakan kelompok senyawa yang mengandung nitrogen dalam bentuk gugus fungsi amin. Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang besar. Pada umumnya, alakaloid mencakup senyawa yang bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom N sebagai bagian dalam surem siklik. Alkaloid kebanyakan ditemukan pada Angiospermae dan jarang pada Gymnospermae dan Cryptogamae. Senyawa ini cukup banyak jenisnya dan terkadang memiliki struktur kimia yang sangat berbeda satu sama lain, meskipun berada dalam satu kelompok.

     Alkaloid sering kali beracun bagi manusia dan memiliki kegiatan fisiologi yang menonjol dan sering digunakan dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tanpa warna dan bersifat optis aktif. Alkaloid biasanya berbentuk kristal dan jarang berbentuk cairan. Alkaloid tidak dapat diidentifikasi dengan ekstrak tumbuhan dengan menggunakan kromatografi tunggal. Biasanya alkaloid diidentifikasi dengan diekstraksi menggunakan pelarut alkohol yang bersifat lemah dan diendapkan ke dalam ammonia pekat. Pemurnian selanjutnya dilaksanakan dengan ekstraksi. Adanya alkaloid dapat diuji dengan menggunakan berbagai pereaksi alkaloid. Adalima golongan alkaloid, yaitu tembakau, tropana, opium, ergat, dan kavolfia.

     Pengelompokan alkaloid biasanya didasarkan pada prekursor pembentuknya. Kebanyakan dibentuk dari asam amino seperti lisin, tirosin, triptofan, histidin dan ornitin. Sebagai contoh, nikotin dibentuk dari ornitin dan asam nikotinat. Beberapa kelompok alkaloid disajikan dalam tulisan ini. Diantaranya adalah kelompok alkaloid benzil isoquinon, seperti: papaverin, berberin, tubokurarin dan morfin. Jenis alkaloid yang banyak terdapat pada famili Solanaceae, tergolong ke dalam kelompok alkaloid tropan, seperti: atropin, yang ditemukan pada Atropa belladona dan skopolamin. Kokain yang berasal dari tumbuhan koka, Erythroxylon coca, juga termasuk ke dalam kelompok ini, meskipun koka tidak termasuk anggota famili Solanaceae. Alkaloid dengan struktur inti berupa indol, dikelompokkan sebagai alkaloid indol, seperti: strikhnin dan quinin yang berasa pahit dan merupakan senyawa penolak makan bagi serangga. Kelompok alkaloid pirrolizidin merupakan ester alkaloid pada genus Senecio, seperti: senecionin. Kelompok lain dari alkaloid yang berasal asam amino lisin adalahquinolizidin yang sering disebut sebagai alkaloid lupin karena banyak terdapat pada genus Lupinus. Alkaloid polihidroksi memiliki stereokimia yang mirip dengan gula, sehingga mengganggu kerja enzim glukosidase. Kelompok alkaloid polihidroksi merupakan penolak makan bagi serangga. Beberapa jenis alkaloid merupakan derivat dari asam nikotinat, purin, asam antranilat, poliasetat dan terpenes. Mereka dikelompokkan ke dalam alkaloid purin, seperti: kafein.

2.  Triterpenoid / Steroid

     Triterpenoid adalah sekelompok senyawa turunan asam mevalonat. Semua jenis triterpenoid dipisahkan dengan cara yang sama, yaitu berdasarkan KLT dan KGC. Identitas dipastikan dengan menentukan titik didih. Triterpenoid tersebar luas dalam dammar, gabas, dan kutin tumbuhan. Asam damar adalah asam triterpenoid yang sering bersama-sama dengan gompolisakarida dalam damar gom.

     Triterpenoid yang paling penting dan tersebar luas adalah triterpenoid pentasiklik. Senyawa ini ditemukan dalam tumbuhan seprimitif sphagrum, tetapi yang paling umum pada tumbuhan berbiji. Pada pemeriksaan triterpenoid dalam tumbuhan, jaringan kering harus dihilangkan lemaknya, lalu diekstraksi dengan methanol panas. Selanjutnya, ekstrak metanol yang telah dihidrolisis dapat diperiksa langsung. Uji deteksi lain yang digunakan adalah uji deteksi yang dipakai untuk triterpenoid secara umum, misalnya H2SO4 saja atau diencerkan dengan air alkohol.

     Terpenoid merupakan kelompok metabolit sekunder terbesar. Saat ini hampir dua puluh ribu jenis terpenoid telah teridentifikasi. Kelompok ini merupakan derivat dari asam mevalonat atau prekursor lain yang serupa dan memiliki keragaman struktur yang sangat banyak. Struktur terpenoid merupakan satu unit isopren (C5H8) atau gabungan lebih dari satu unit isopren, sehingga pengelompokannya didasarkan pada jumlah unit isopren penyusunnya.

Monoterpenoid umumnya bersifat volatil dan biasanya merupakan penyusun minyak atsiri. Monoterpenoid memberikan aroma yang khas pada tumbuhan. Monoterpenoid dikelompokkan sebagai :

 a. Asiklik, contoh : geraniol

 b. Monosiklik, contoh: limonene

 c. Bisiklik, contoh: pinene

3.  Fenolik

     Fenolik merupakan kelompok senyawa aromatis dengan gugus fungsi hidoksil. Cara klasik untuk mendeteksi senyawa fenol sederhana ialah dengan menambahkan larutan besi (II) klorida 1 %. Pigmen fenolik warnanya dapat dilihat selama proses isolasi dan proses pemurnian. Salah satu golongan fenolik yaitu melamin tumbuhan pada penguraian basa yang menghasilkan fenol sederhana. Fenolik merupakan senyawa yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Fenolik memiliki cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus hidroksi (OH-) dan gugus-gugus lain penyertanya. Senyawa ini diberi nama berdasarkan nama senyawa induknya, fenol. Senyawa fenol kebanyakan memiliki gugus hidroksi lebih dari satu sehingga disebut sebagai polifenol. Fenol biasanya dikelompokkan berdasarkan jumlah atom karbon pada kerangka penyusunnya.

     Kelompok terbesar dari senyawa fenolik adalah flavonoid, yang merupakan senyawa yang secara umum dapat ditemukan pada semua jenis tumbuhan. Biasanya, satu jenis tumbuhan mengandung beberapa macam flavonoid dan hampir setiap jenis tumbuhan memiliki profil flavonoid yang khas. Flavonoid adalah kelompok senyawa fenil propanoid dengan kerangka karbon C6-C3-C6. Flavonoid merupakan senyawa yang larut dalam air dan dapat diekstraksi dengan etanol 70%. Flavonoid merupakan senyawa fenol. Oleh karena itu, warnanya akan berubah jika bertambah basa atau ammonia. Inti flavonoid biasanya berikatan dengan gugusan gula sehingga membentuk glikosida yang larut dalam air. Pada tumbuhan, flavonoid biasanya disimpan dalam vakuola sel.

     Flavonoid dan isoflavonoid adalah salah satu golongan senyawa metabolit sekunder yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan, khususnya dari golongan leguminoceae (tanaman berbunga kupu-kupu). Kandungan senyawa flavonoid dalam tanaman sangat rendah yaitu sekitar 25 %. Senyawa-senyawa tersebut pada umunya dalam keadaan terikat / konjugasi dengan senyawa gula.

     Secara umum, flavonoid dikelompokkan lagi menjadi kelompok yang lebih kecil (sub kelompok), yaitu:

a. Flavon, contoh: luteolin

b. Flavanon, contoh: naringenin

c. Flavonol, contoh: kaempferol,

d. Antosianin dan

e. Calkon.

     Beberapa jenis flavon, flavanon dan flavonol menyerap cahaya tampak, sehingga membuat bunga dan bagian tumbuhan yang lain berwarna kuning atau krem terang. Sedangkan jenis-jenis yang tidak berwarna merupakan zat penolak makan bagi serangga (contoh: katecin) ataupun merupakan racun (contoh: rotenon). Rutin, yang merupakan glikosida flavonol yang tersebar di hampir semua jenis tumbuhan, juga merupakan zat penolak makan yang kuat bagi serangga polifagus, seperti Schistocerca americana. Sementara itu paseolin, dilaporkan merupakan glikosida flavonol yang paling efektifsebagai zat penolak makan bagi serangga. Pada percobaan dengan kumbang pemakan akar, Costelytra zealandica, paseolin memberikan nilai FD50 yang sangat rendah, yaitu 0.03 ppm. Tanin merupakan senyawa polifenol dengan berat molekul antara 500 sampai dengan 20000 dalton. Pada sel tumbuhan, tanin selalu berikatan dengan protein sehingga disebut merupakan zat yang menurunkan nilai nutrisi dari jaringan tumbuhan bagi pemakannya.

4. Saponin

     Saponin adalah kelompok senyawa dalam bentuk glikosida atau steroid. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer, saponin sangat beracun untuk ikan dan tumbuhan yang mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus-ratus tahun. Beberapa saponin juga digunakan sebagai anti mikroba.

     Saponin memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut dalam air dan tidak larut dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir. Jika digunakan dengan benar saponin dapat bermanfaat sebagai sumber anti bakteri dan anti virus, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas, mengurangi kadar gula dalam darah, dan mengurangi penggumpalan darah.

     Dikenal dua jenis saponin, yaitu glikosida triterpenoid alkohol dan glikosida struktur steroid. Kedua jenis saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter. Saponin steroid paling umum ditemukan dalam keluarga liliceae, amarillidaceae, dan droscoreaceae.

5. Kumarin

     Kumarin adalah kelompok senyawa fenil provanoid dengan kerangka benzene dan pirin C6-C3. Hampir semua kumarin alam mempunyai oksigen. Kumarin terdapat dalam semua bagian tumbuhan dan tersebar luas di dunia tumbuhan, tetapi yan terutama terdapat dalam rumput-rumputan (graminae), angrek, jeruk (rutaceae), dan polong-polongan (leguminasae). Kumarin yang paling umum terdapat pada tumbuhan tinggi ialah skopoletin.

Kumarin mempunyai berbagai efek fisiologi terhadap tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pada tumbuhan efeknya adalah menghambat atau menstimulasi asam indol-3-asetat oksidase, menstimulasi produksi etilena, menghambat sintesis selulosa. Pada hewan, kumarin mempunyai efek toksik terhadap mikroorganisme dan dapat membunuh serangga.

6.  Zat warna Kuinon

     Kuinon adalah senyawa berwarna yang mencapai kromospor dasar, seperti kromospor pada benzo kuinon yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon. Untuk mengidentifikasi kuinon, dapat dipilih empat kelompok, yaitu benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon, kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama biasanya terhidrolisasi dan bersifat senyawa fenol. Dengan demikian, diperlukan hidrolisis asam untuk melepaskan kuinon bebasnya.

7.  Glukosinolat dan Sianogenik

Glukosinolat

     Glukosinolat merupakan metabolit sekunder yang dibentuk dari beberapa asam amino dan terdapat secara umum pada Cruciferae (Brassicaceae). Glukosinolat dikelompokkan menjadi setidaknya 3 kelompok, yakni :

a.  Glukosinolat alifatik (contoh: sinigrin), terbentuk dari asam amino alifatik (biasanya metionin),

b.  Glukosinolat aromatik (contoh: sinalbin), terbentuk dari asam amino aromatik (fenilalanin atau tirosin) dan

c.  Glukosinolat indol, yang terbentuk dari asam amino indol (triptofan).

       Keragaman jenis glukosinolat tergantung pada modifikasi ikatannya dengan gugus lain melalui hidroksilasi, metilasi dan desaturasi. Hidrolilis dari glukosinolat terjadi karena adanya enzim mirosinase, sehingga menghasilkan beberapa senyawa beracun seperti isotiosianat, tiosianat, nitril, dan epitionitril. Senyawa-senyawa tersebut merupakan racun bagi serangga yang bukan spesialis pemakan tumbuhan Cruciferae, dan merupakan zat penolak makan bagi ulat kilan, Trichoplusiani.

Sianogenik

Semua jenis tumbuhan mempunyai kemampuan untuk mensintesis glikosida sianogenik. Namun, tidak semua jenis tumbuhan mengumpulkan senyawa ini dalam sel-selnya. Pada famili Rosaceae, senyawa ini disimpan pada vakuola. Pada saat sel tumbuhan dirusak, glikosida sianogenik akan dihidrolisis secara enzimatis menghasilkan asam sianida (HCN) yang sangat beracun dan merupakan zat penolak makan serangga dengan spektrum yang luas.





II.4 Metoda Ekstraksi


            Ekstraksi adalah Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Ekstraksi pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan sejmlah gugus yang diinginkan dan mungkin merupakan gugs pengganggu dalam analisis secara keseluruhan. Kadang-kadang gugus-gugs pengganggu ini diekstraksi secara selektif.

II.4.1 Sokletasi


Adapun prinsip sokletasi ini yaitu : Penyaringan yang berulang ulang sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila penyaringan ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode sokletasi menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan tersebut, tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak diinginkan

Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ), tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini, maka cara yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi

Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Dengan cara pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan membasahi sampel, secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu zat padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang diinginkan.

Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ), tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini, maka cara yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi.

Keunggulan sokletasi :

1. Sampel diekstraksi dengan sempurna karena dilakukan berulang ulang.

2. Jumlah pelarut yang digunakan sedikit.

3. Proses sokletasi berlangsung cepat.

4. Jumlah sampel yang diperlukan sedikit.

5. Pelarut organik dapat mengambil senyawa organik berulang kali.



Kelemahan sokletasi :

1. Tidak baik dipakai untuk mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang mudah rusak atau senyawa senyawa yang tidak tahan panas karena akan terjadi penguraian.

2. Harus dilakukan identifikasi setelah penyarian, dengan menggunakan pereaksi meyer, Na, wagner, dan reagen reagen lainnya.

3. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah, sehingga mudah menguap.



Syarat Pelarut yang digunakan

Syarat syarat pelarut yang digunakan dalam proses sokletasi :

1. Pelarut yang mudah menguap Ex : heksan, eter, petroleum eter, metil klorida dan alkohol

2. Titik didih pelarut rendah.

3. Pelarut tidak melarutkan senyawa yang diinginkan.

4. Pelarut terbaik untuk bahan yang akan diekstraksi.

5. Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan.

6. Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi, polar atau nonpolar.

Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan secara berurutan pelarut – pelarut organik dengan kepolaran yang semakin menigkat. Dimulai dengan pelarut heksana, eter, petroleum eter, atau kloroform untuk memisahkan senyawa – senyawa trepenoid dan lipid – lipid, kemudian dilanjutkan dengan alkohol dan etil asetat untuk memisahkan senyawa – senyawa yang lebih polar. Walaupun demikian, cara ini seringkali tidak. menghasilkan pemisahan yang sempurna dari senyawa – senyawa yang diekstraksi.

Cara menghentikan sokletasi adalah dengan menghentikan pemanasan yang sedang berlangsung. Sebagai catatan, sampel yang digunakan dalam sokletasi harus dihindarkan dari sinar matahari langsung. Jika sampai terkena sinar matahari, senyawa dalam sampel akan berfotosintesis hingga terjadi penguraian atau dekomposisi. Hal ini akan menimbulkan senyawa baru yang disebut senyawa artefak, hingga dikatakan sampel tidak alami lagi.



II.3.2 Refluks




 Refluks adalah salah satu metode dalam ilmu kimia untuk mensintesis suatu senyawa, baik organik maupun anorganik. Umumnya digunakan untuk mensistesis senyawa-senyawa yang mudah menguapa atau volatile. Pada kondisi ini jika dilakukan pemanasan biasa maka pelarut akan menguap sebelum reaksi berjalan sampai selesai. Prinsip dari metode refluks adalah pelarut volatil yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya dalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi sehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung. Sedangkan aliran gas N2 diberikan agar tidak ada uap air atau gas oksigen yang masuk terutama pada senyawa organ logam untuk sintesis senyawa anorganik karena sifatnya reaktif.
Prosedur dari sintesis dengan metode refluks adalahSemua reaktan atau bahannyadimasukkan dalam labu bundar leher tiga.Kemudian dimasukkan batang magnet stirer setelah kondensor pendingin air terpasangCampuran diaduk dan direfluks selama waktu ekstraksi yang telah di tentukan.                         
     Pengaturan suhu dilakukan pada penangas air, minyak atau pasir sesuai dengan kebutuhan reaksi.Pelarut akan mengekstraksi dengan panas, terus akan menguap sebagai senyawa murni dan kemudian terdinginkan dalam kondensor, turun lagi kewadah, mengekstraksi lagi dan begitu terus.Demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyaringan sempurna
Penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam.

Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. Gas N2 dimasukkan pada salah satu leher dari labu bundar.Dilakukan dengan menggunakan alat destilasi, dengan merendam simplisia dengan pelarut/solven dan memanaskannya hingga suhu tertentu. Pelarut yang menguap sebagian akan mengembung kembali kemudian masuk ke dalam campuran simplisia kembali,dan sebagian ada yang menguap.Keuntungan dan Kerugian Metode Refluks
Keuntungan dari metode refluks adalah: Digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar, danTahan pemanasan langsung.Kerugian dari metode refluks adalah: Membutuhkan volume total pelarut yang besar,danSejumlah manipulasi dari operator.  Description: See the source image

II.3.3 Maserasi


Maserasi adalah salah satu jenis metoda ekstraksi dengan sistem tanpa pemanasan atau dikenal dengan istilah ekstraksi dingin, jadi pada metoda ini pelarut dan sampel tidak mengalami pemanasan sama sekali. Sehingga maserasi merupakan teknik ekstraksi yang dapat digunakan untuk senyawa yang tidak tahan panas ataupun tahan panas.Namun biasanya maserasi digunakan untuk mengekstrak senyawa yang tidak tahan panas (termolabil) atau senyawa yang belum diketahui sifatnya. Karena metoda ini membutuhkan pelarut yang banyak dan waktu yang lama. Secara sederhana, maserasi dapat kita sebut metoda “perendaman” karena memang proses ekstraksi dilakukan dengan hanya merendam sample tanpa mengalami proses lain kecuali pengocokan (bila diperlukan). Prinsip penarikan (ekstraksi) senyawa dari sample adalah dengan adanya gerak kinetik dari pelarut, dimana pelarut akan selalu bergerak pada suhu kamar walaupun tanpa pengocokan. Namun untuk mempercepat proses biasanya dilakukan pengocokan secara berkala.



B.     Kelebihan Maserasi

Seperti dijelaskan diatas maserasi dapat digunakan untuk jenis senyawa tahan panas ataupun tidak tahan panas. Selain itu tidak diperlukan alat yang spesifik, dapat digunakan apa saja untuk proses perendaman.



C.     Kekurangan Maserasi

Maserasi membutuhkan waktu yang lama, biasanya paling cepat 3x24jam, disamping itu membutuhkan pelarut dalam jumlah yang banyak.

Untuk menjelaskan kelebihan dan kekurangan mari kita bahas secara prosedur.

dimana sample dimasukkan ke dalam bejana (maserator) kemudian direndam dengan pelarut sampai terendam sempurna dan tambahkan sekitar 1-2cm pelarut di atas permukaan sample, kemudian tutup bagian atas untuk mencegah masuknya pengotor dan penguapan pelarut, namun berikan sedikit lobang untuk mencegah terjadinya letupan akibat penguapan pelarut. Perendaman dilakukan selama kurun waktu tertentu, misalnya dilakukan selama 24 jam dengan diberikan pengadukan setiap 1-2 jam (kalau malem biarkan saja tidak perlu di aduk), proses pengadukan bukan keharusan. Setelah 24 jam ganti pelarut dengan pelarut baru dan selanjutnya perlakukan sama dengan yang pertama. Penggantian pelarut dilakukan untuk mempercepat proses ekstraksi, karena pelarut pertama kemungkinan sudah jenuh oleh senyawa sehingga tidak dapat melarutkan kembali senyawa yang diharapkan, dan waktu pergantian tergantung kebutuhan tidak harus 24 jam. 

Maserasi dapat dilakukan modifikasi misalnya:



II.3.4 Digesti


Adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40˚ C - 50˚ C. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan.



Dengan pemanasan akan diperoleh keuntungan antara lain :

a.       Kekentalan pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisan-lapisan batas.

b.      Daya melarutkan cairan penyari akn meningkat, sehingga pemanasan tersebut mempunyai pengaruh yang sama dengan pengadukan.

c.       Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu absolut dan berbanding terbalik dengan kekentalan, hingga kenaikan suhu akan berpengaruh pada kecepatan difusi. Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat apabila suhu dinaikkan.

d.      Jika cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan, maka perlu dilengkapi dengan pendingin balik, sehingga cairan penyari yang menguap akan kembali ke dalam bajana.



Maserasi dengan mesin pengaduk.

Pengaduk berputar terus-menerus, waktu proses masersi dapat dipersingkat menjadi 6-24 jam.

Remaserasi

Cairan penyari dibagi 2. Seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari pertama, sesudah dienap tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari yang kedua.





Maserasi melingkar.

Maserasi dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya.



Keuntungan cara ini :

a.       Aliran cairan penyari mengurangi lapisan batas

b.      Cairan penyari akan didistribusikan secara seragam sehingga akan memperkecil kepekaan setempat

c.       Waktu yang diperlukan lebih pendek.







Maserasi melingkar bertingkat

Pada maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna, karena pemindahan massa akan berhenti bila keseeimbangan telah terjadi. Masalah  ini dapat diatasi dengan maserasi melingkar bertingkat (MMB). Cairan-cairan penyari yang cocok untuk metode maserasi. Pelarut merupakan senyawa yang bisa melarutkan zat sehingga bisa menjadi sebuah larutan yang bisa diambil sarinya.

Description: See the source image



II.3.5 Perkolasi

Perkolasi adalah proses penyarian simplisia dengan jalan melewatkan pelarut yang sesuai secara lambat pada simplisia dalam suatu percolator. Perkolasi bertujuan supaya zat berkhasiat tertarik seluruhnya dan biasanya dilakukan untuk zat berkhasiat yang tahan ataupun tidak tahan pemanasan. Prinsip perkolasi adalah sebagai berikut: serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain: gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya kapiler dan daya geseran (friksi).

Secara umum proses perkolasi ini dilakukan pada temperatur ruang. Sedangkan parameter berhentinya penambahan pelarut adalah perkolat sudah tidak mengandung senyawa aktif lagi. Pengamatan secara fisik pada ekstraksi bahan alam terlihat pada tetesan perkolat yang sudah tidak berwarna.



Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena:

a.       Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.

b.      Ruangan diantara serbuk-serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari.karena kecilnya saluran kapiler tersebut,maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas,sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.


Perkolasi Bertingkat

            Dalam proses perkolasi biasa, perkolat yang dihasilkan tidak dalam kadar yang maksimal. Selama cairan penyari melakukan penyarian serbuk simplisia, maka terjadi aliran melalui lapisan serbuk dari atas sampai ke bawah disertai pelarutan zat aktifnya. Proses poenyaringan tersebut akan menghasilkan perkolat yang pekat pada tetesan pertama dan terakhir akan diperoleh perkolat yang encer.

Untuk memperbaiki cara perkolasi tersebut dialkukan cara perkolasi bertingkat. Serbuk simplisia yang hampir tersari sempurna sebelum dibuang, disari dengan cairan penyari yang baru. Hal ini diharapkan agar serbuk simplisia tersebut dapat tersari sempurna. Sebaliknya serbuk simplisia yang baru disari dengan perkolat yang hampir jenuh, dengan demikian akan diperoleh perkolat akhir yang jernih. Perkolat dipisahkan dan dipekatkan.
Cara ini cocok bila digunakan untuk perusahaan obat tradisional, termasuk perusahaan yang memproduksi sediaan galenik. Agar dioperoleh cara yang tepat, perlu dilakukan percobaan pendahuluan.

Dengan percobaan tersebut dapat ditetapkan :

1.Jumlah percolator yang diperlukan

2.Bobot serbuk simplisia untuk tiap kali perkolasi

3.Jenis cairan penyari

4.Jumlah cairan penyari untuk tiap kali perkolasi

5.Besarnya tetesan dan lain-lain.



Percolator yang digunakan untuk cara perkolasi ini agak berlainan dengan percolator biasa. Percolator ini harus dapat diatur, sehingga:

1.      Perkolat dari suatu percolator dapat dialirkan ke percolator lainnya.

2.      Ampas dengan mudah dapat dikeluarkan.Percolator diatur dalam suatu deretan dan tiap percolator berlaku sebagai percolator pertama. 

Description: See the source image



II.5 Fraksinasi


            Fraksinasi merupakan suatu prosedur yang digunakan untuk memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari kandungan golongan utama yang lainnya. Fraksinasi merupakan prosedur pemisahan komponen-komponen berdasarkan perbedaan kepolaran tergantung dari jenis senyawa yang terkandung dalam tumbuhan.

Dalam metode fraksinasi pengetahuan mengenai sifat senyawa yang terdapat dalam ekstrak akan sangat mempengaruhi proses fraksinasi. Oleh karena itu, jika digunakan air sebagai pengekstraksi maka senyawa yang terekstraksi akan bersifat polar, termasuk senyawa yang bermuatan listrik. Jika digunakan pelarut non polar misalnya heksan, maka senyawa yang terekstraksi bersifat non polar dalam ekstrak. Pada prakteknya dalam melakukan fraksinasi digunakan dua metode yaitu dengan menggunakan corong pisah dan kromatografi kolom.

Corong pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi cair-cair untuk memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut dengan densitas yang berbeda yang tak tercampur.

Umunya salah satu fase berupa larutan air dan yang lainnya berupa organiklipofilik seperti eter, MTBE, diklorometana, kloroforom, ataupun etilasetat. Kebanyakan pelarut organik berada di atas fase air kecuali pelarut yang memiliki atom dari unsur halogen. Pemisahan ini didasarkan pada tiap bobot dari fraksi, fraksi yang lebih berat akan berada pada bagian dasar sementara fraksi yang lebih ringan akan berada di atas. Tujuannya untuk memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari kandungan yang lain. Senyawa yang bersifat polar akan masuk ke pelarut polar dan senyawa non polar akan masuk ke pelarut non polar.

Corong pemisah berbentuk kerucut yang ditutupi setengah bola, mempunyai penyumbat di atasnya dan di bawahnya. Corong pemisah yang digunakan dalam laboratorium terbuat dari kaca borosilikat dan kerannya terbuat dari kaca ataupun teflon. Ukuran corong pemisah bervariasi antara 50 ml sampai 3 L. Dalam skala industri, corong pemisah bisa berukuran sangat besar dan dipasang sentrifuge.

Untuk memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut dimasukkan kedalam corong dari atas dengan corong keran ditutup. Corong ini kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat untuk membuat dua fase larutan tercampur. Corong ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk melepaskan tekanan uap yang berlebihan. Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan antara dua fase berlangsung. Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan dua fase larutan ini dipisahkan dengan mengontrol keran corong.

 


II.6 Kromatografi


            Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas). Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa terdapat dua komponen penting dalam kromatografi yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas).

            Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu kolom, perbedaan kemampuan adsorpsi terhadap zat - zat yang sangat mirip mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan apa yang disebut kromatogram (Khopkar, 2008).

Kromatografi melibatkan pemisahan terhadap campuran berdasarkan perbedaan-perbedaan tertentu yang dimiliki oleh senyawanya. Perbedaan yang dapat dimanfaatkan meliputi kelarutan dalam berbagai pelarut serta sifat polar. Kromatografi biasanya terdiri dari fase diam (fase stasioner) dan fase gerak (fase mobile). Fase gerak membawa komponen suatu campuran melalui fase diamdan fase diam akan berikatan dengan komponen tersebut dengan afinitas yang berbeda-beda. Jenis kromatografi yang berlainan bergantung pada perbedaan jenis fase, namun semua jenis kromatografi tersebut berdasar pada asas yang sama.



II.6.1 Kromatografi Lapis Kertas

   Teknik kromatografi kertas diperkenalkan oleh Consden, Gordon dan Martin (1994), yang menggunakan kertas saring sebagai penunjang fase diam. Kertas merupakan selulosa murni yang memiliki afinitas terhadap air atau pelarut polar lainnya. Bila air diadsorbsikan pada kertas, maka akan membentuk lapisan tipis yang dapat dianggap analog dengan kolom. Lembaran kertas berperan sebagai penyangga dan air bertindak sebagai fase diam yang terserap di antara struktur pori kertas. Cairan fase bergerak yang biasanya berupa campuran dari pelarut organik dan air, akan mengalir membawa noda cuplikan yang didepositkan pada kertas dengan kecepatan yang berbeda. Pemisahan terjadi berdasarkan partisi masing-masing komponen di antara fase diam dan fase bergeraknya. Kromatografi kertas digunakan baik untuk analisis kualitatif maupun kuntitatif. Senyawa - senyawa yang dipisahkan kebanyakan bersifat sangat polar, misalnya asam amino, gula - gula, dan pigmen - pigmen alam (Yazid, 2005).

Dalam teknik kromatografi kertas, proses pengeluaran asam mineral dari kertas disebut desalting. Larutan ditempatkan pada kertas dengan menggunakan mikropipet pada jarak 2-3 cm dari salah satu ujung kertas dalam bentuk coretan garis horizontal. Setelah kertas dikeringkan, diletakkan di ruang yang sudah dijenuhkan dengan air atau dengan pelarut yang sesuai. Penjenuhan dapat dilakukan 24 jam sebelum analisis. Descending adalah salah satu teknik di mana cairan dibiarkan bergerak menuruni kertas akibat gravitasi. Pada teknik ascending, pelarut bergerak ke atas dengan gaya kapiler. Nilai Rf harus sama baik pada descending maupun ascending. Sedangkan yang ketiga dikenal sebagai cara radial atau kromatografi kertas sirkuler. Kondisi - kondisi berikut harus diperhatikan untuk memperoleh nilai Rf yang reprodusibel. Temperatur harus dikendalikan dalam variasi tidak boleh lebih dari 0,5oC. Kertas harus didiamkan dahulu paling tidak 24 jam dengan atmosfer pelarutnya, agar mencapai kesetimbangan sebelum pengaliran pelarutnya pada kertas. Dilakukan beberapa pengerjaan yang parallel, Rfnya tidak boleh berbeda lebih dari 0,02 (Khopkar, 2008).









            II.6.3 Kromatografi Kolom

Terjadinya proses pemisahan dapat dengan cara :

1.      Adsorpsi - Adsorpsi komponen atau senyawa diantara permukaan padatan dengan cairan (solid liquid interface) - Agar terjadi pemisahan dengan baik, maka komponen-komponen tersebut harus mempunyai afinitas yang berbeda terhadap adsorben dan ada interaksi antara komponen dengan adsorben.

2.      Partisi - Fase diam dan fase gerak berupa cairan yang tidak saling bercampur - Senyawa yang akan dipisahkan akan berpartisi antara fase diam dan fase gerak. Karena fase diam memberikan daerah yang sangat luas bagi fase gerak, maka pemisahan berlangsung lebih baik.

Penyiapan kolom

Pemilihan ukuran kolom a. Tergantung jumlah sampel yang akan dipisahkan, perbandingan adsorben-cuplikan (30:1) b. Perbandingan panjang dengan diameter kolom (10-15:1) c. Untuk sampel yang multikomponen yang mempunyai afinitas yang sama terhadap adsorben maka dipilih kolom yang panjang, sedangkan untuk komponendengan afinitas yang berbeda terhadap adsorben maka dipilih kolom yang pendek.

Cara melakukan adsorben ke dalam kolom: 1. Metode kering 2. Metode basah 3. Metode bubur/lumpuran



Penggunaan kolom

1.      Sebelum dilakukan elusi, kolom dibasahi dulu dengan sejumlah fase gerak yang akan digunakan.

2.      Sampel dimasukkan ke dalam kolom dalam bentuk padat maupun cair Sampel bentuk padat : • Dicampur dengan adsorben sampai merata, kemudian dengan hati-hati dimasukkan ke dalam kolom yang sudah berisi adsorben • Pada kromatografipartisi, sampel dilarutkan dalam fase diam, kemudian dicampur dengan bahan penyangga, baru ditempatkan di atas adsorben Sampel bentuk cair : Dilarutkan/dicampur dengan fase gerak, kemudian dengan hati-hati dimasukkan ke dalam kolom yang sudah berisi adsorben.

3.      Setelah sampel masuk kolom, biasanya dilakukan pencucian terlebih dahulu baru dielusi dengan fase gerak. Untuk mendapatkan hasil elusi yang baik, umunya kecepatan fase gerak diatur 1-5 ml/menit.

4.      Setelah elusi selesai, kromatogram dapat dideteksi dengan : - Berdasarkan warna sampel, bila yang dielusi berwarna - Dengan sinar UV 366nm - Disemprot dengan larutan/reagen penampak bercak.










BAB III


PENATALAKSANAAN PRAKTIKUM




III.I ALAT DAN BAHAN


a.       Alat

·         Lumping dan stanfer

·         Timbangan analitik

·         Gelas ukur

·         Pipet tetes

·         Beaker gelas

·         Serangkaian Alat refluks

·         Corong pisah

·         Rotary evaporator

·         Hot plate

·         Alat penampak noda

·         Kolom

·         Plat silica





b.      Bahan

·         Buah merica

·         Buah pala

·         Methanol

·         Kloroform

·         N-heksana

·         Aquadest

·         Etil asetat

·         Serbuk silica

·         Asam asetat anhidrat

·         Ammonia

·         Ferri klorida logam magnesium

·         Asam klorida

·         Reagen mayer

 






III.2 SKRINING FITOKIMIA SAMPEL TUMBUHAN


            III.2.1 UJI KANDUNGAN ALKALOID


                        Potong sampel kecil-kecil sebanyak 2gram, kemudian gerus dengan menambahkan 5ml kloroform, setelah halus tambahkan 5ml kloroformm amoniak 0.05M, digerus lagi perlahan. Saring larutan dengan meletakkan kapas didalam lumping, masukkan hasil saringan kedalam tabung reaksi. Tambahkan 10tetes asam sulfat 2N dan kocok perlahan, biarkan sejenak hingga terbentuk lapisan asam dan lapisan kloroform. Kemudian ambil lapisan asam lalu masukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan pereaksi mayer. Reaksi positif terjadi bila adanya kabut putih hingga gumpalan putih atau endapan putih.

            III.2.2 UJI KANDUNGAN TERPENOID,STEROID, FLAVONOID, FENOLIK DAN SAPONIN


                        Timbang sampel sebanyak 5gram, kemudian dirajang dan dimasukkan kedalam Erlenmeyer.tambahkan methanol sampai terendam. Panaskan selama 15menit diatas hot plate. Saring larutan menggunakan kapas kedalam tabung reaksi. Panaskan tabung reaksi sampai semua pelarut menguap. Lalu tambahkan kloroform:aquadest (1:1) sebanyak 5ml. kocok perlahan. Kemudian diamkan sampai terbentuk dua lapisan yaitu lapisan kloroform dan lapisan air. Pisahkan lapisan kloroform dan lapisan air kedalam tabung rx masing masing.

1.      Uji kandungan terpenoid dan steroid

Ambil lapisan kloroform, masukkan kedalam pipet tetes yang sudah berisi norit. Lewatkan lapisan kloroform didalam pipet tersebut, tamping dan teteskan kedalam dua lobang plat tetes yang sudah disediakan. Lapisan jernih yang didapat ditambahkan dengan asam sulfat pekat 2tetes dan asam asetat anhidrat masing-masingnya. Perhatikan perubahan warna yang terbentuk. Warna merah untuk mengindikasikan adanya terpenoid sedangkan warna biru/ hujau untuk steroid.

2.      Uji kandungan flavonoid

Ambil lapisan air, letakkan di plat tetesb , kemudian tambahkan sedikit logam Mg dan satu tetes hcl pekat. Perhatikan perubahan warna yang terbentuk. Warna jingga sampai mera mengidikasikan adanya senyawa golongan flavonoid.







3.      Uji kandungan fenolik

Ambil lapisn air, letakkan di plat tetes, kemudian tambahkan beberapa tetes ferri klorida. Amati perubahan warna yang terjadi. Warna ungu sampai biru kehitaman mengindikasikan adanya senyawa fenolik

4.      Uji kandunga saponin

Ambil lapisan air, masukkan kedalam tabung reaksi, lalu kocok beberapa saat, diamkan lalu perhatikan busa yang terbentuj. Positif saponin jika busa bertahan lama.

III.3 ISOLASI SENYAWA ALKALOID DARI BUAH MERICA


1.      Penyiapan Sampel

a.       Timbang buah merica sebanyak 100gram

b.      Haluskan menggunakan lumping dan stamfer

2.      Ekstraksi sampel

a.       Masukkan sampel kedalam refluks

b.      Tambahkan methanol sebanyak 200ml, tambahkan batu didih secukupnya

c.       Rangkai alat refluks

d.      Nyalakan hot plate

e.       Ekstraksi selama 60menit

f.       Saring ekstrak cair yang diperoleh, pekatkan menggunakan rotary evaporator

g.      Timbang berat ekstrak yang diperoleh

h.      Hitung rendemen ekstrak yang didapat

3.      Fraksinasi sampel

a.       Timbang 10gr ekstrak, masukkan kedalam corong pisah

b.      Tambah 50ml n-heksana dan 50ml aquadest

c.       Kocok searah angka delapan

d.      Diamkan sampai terbentuk 2 lapisan

e.       Pisahkan lapisan air dengan lapisan n-heksana

f.       Masukkan lagi lapisan air kedalam corong pisah, fraksinasikan lagi dengan 50ml n-heksana dengan kerja yang sama

g.      Lapisan n-heksana yang telah dikumpulkan lalu di pekatkan dengan rotary evaporator, hitung berat fraksi n-heksana yang diperoleh

h.      Hitung berat rendemen fraksi n-heksana terhadap ekstak

i.        Masukkan lapisan air tadi kedalam corong pisah fraksinasikan menggunakan kloroform dengan kerja yang sama hingga didapat fraksi kloroform

j.        Hitung berat fraksi kloroform dan rendemennya terhadap ekstrak

4.      Isolasi dengan metoda kromatografi

a.       Analisa komponen senyawa ekstrak dan fraksi menggunakan kromatografi lapis tipis

·         Potong plat klt dengan panjang 5cm dan lebar 2.5 cm

·         Berikan garis batas atas dan batas bawah dengan jarak 0.5cm dari ujung plat

·         Tandai tempat totolan untuk masing-masing sampel baik ekstrak maupun faksi pada plat yang sama

·         Siapkan eluen yang digunakan berupa campuran n-heksana dan etil asetat (1:1)

·         Masukkan eluen ke dalam bejana , tutup bejana dan lakukan penjenuhan

·         Larutkan ekstrak dan fraksi menggunakan pelarut yang telah dijenuhkan , totolkan dengan penotol pada garis bawah yang sudah dibuat

·         Elusikan dalam wadah sampai garis atas

·         Angkat plat tersebut, kering anginkan lalu lihat noda yang ada di bawah lampu uv 254 dan 366nm

·         Tandai noda menggunakan pensil, dan hitung rf masing-masing noda

b.      Isolasi senyawa menggunaakan kromatografi kolom

·         Siapkan kolom kaca, statif dan klem

·         Lakukan packing kolom dengan cara membuat bubur silica dengan n-heksana masukkan bubur silica kedalam kolom, lalu padatkan

·         Lakukan perabsorbsi sampel dengan silica gel

·         Masukkan sampel kedalam kolom. Elusi dengan eluen yang di siapkan

·         Tamping hasil vial yang telah di nomori

·         Lakukan pemeriksaan profil klt hasil kolom menggunakan eluen yang sesuai

c.       Pemurnian senyawa hasil isolasi

·         Pilih hasil kolom yang berbentuk padatan, Kristal atau minyak dengan profil klt noda sederhana

·         Lakukan pemurnian dengan jalan pencucian dengan pelarut yang susai atau dengan kristalisasi

5.      Karakterasi dan identifikasi senyawa hasil isolasi

a.       Pemeriksaan titik leleh menggunakan alat melting point apparatus

b.      Pemeriksaan profil klt









Tabel hasil skrining fitokimia
NO
SAMPEL TUMBUHAN
METABOLIT SEKUNDER GOLONGAN
ALKALOID
TERPENOID
STEROID
FLAVONOID
FENOLIK
SAPONIN
1
Daun pulai (alstonia scholaris)
-
-
+
+
+
+
2
Daun pegagan (centella asiatica)
-
+
+
+
+
+
3
Buah lada hitam (piper ningrum)
+
+
-
-
-
+
4
Buah Pala (myristica fragrans)
+
+
-
-
+
-
5
Daun Pandan (pandanus sp)
+
-
-
-
-
-
6
Kembang Sepatu (hibiscus rosasinensis )
-
-
+
-
-
-
7
Manggis
+
-
-
+
+
-
8
Daun Pucuk merah (syzygium oleana)
-
-
-
+
+
-
9
Daun Sirih (piper bettle)
-
+
+
-
-
+
10
rimpang temulawak (curcuma xanthoriza)
-
+
-
-
-
-



IV.2 Hasil ekstraksi sampai kolom


a.       Rendemen Ekstrak dan fraksi

Berat ekstrak yang didapat     =150,7303

Berat ekstrak awal                  =63,8304



% Rendemen                           =

            x 100

           

Hasil fraksinasi           

                                     1,295

b.      Profil KLT dan fraksi

Diketahui :

Noktah dari ekstrak                =1.6cm

Noktah dari kloroform            =1.9cm

Noktah dari n-heksana            =2.4cm

Jarak pelarut                            = 4cm



Rf ekstrak      

                            

                        =0.4



Rf kloroform  

                            

                        =0.47



Rf  n-heksana 

                            

                        =0.6



c.       Profil klt hasil kolom

Ekstrak  fraksi

Rf ekstrak      

                            

                        =0.5

Vial 6 

                            

                        =0.375

Vial 11

                            

                        =0.375

Vial 31 =  

                            

                        =0.5

Vial 41   

                            

                        =0.5

Vial 46  

                            

                        =0.5













Pada praktikum kali ini adalah praktikum tentang uji fitokimia dimana kelompok kami mendapatkan sampel lada hitam (piper ningrum L) dan buah pala (myristica fragrans). uji fitokimia adalah untuk mengetahui metabolit sekunder yang ada di dalam buah pala dan lada hitam. Tujuan diketahuinya kandungan dari pada buah pala dan lada hitam adalah untuk mengelompokkan senyawa metabolit sekunder yang ada pada senyawa tersebut. Dimana lada hitam diketahui memiliki kandungan alkaloid, terpenoid dan saponin. Sedangkan buah pala memiliki kandungan alkaloid , terpenoid, dan fenolik. Dimana dari hasil uji fitokimia dari lada hitam dan buah pala ini kami menggunakan lada hitam untuk menguji alkaloid nya sebagai senyawa spesifik di dalam lada hitam, lada hitam pengujian nya hanya sampai mengetahui apa saja kandungan yang ada didalamnya.

            Setelah dilakukan uji skrining fito kimia dilakukan isolasi senyawa alkaloid dari buah merica (Piper nigrum L). Alkaloid adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali dan sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul senyawa tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam dosis kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan.



Alkaloid juga adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloida mengandung paling sedikit satu atom nitrogen.



Hampir semua alkaloida yang ditemukan di alam mempunyai keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam pengobatan. Misalnya kuinin, morfin dan stiknin adalah alkaloida yang terkenal dan mempunyai efek sifiologis dan fisikologis. Alkaloida dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Alkaloida umunya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan.



Dengan cara mengekstraksi sampel padat sebnyak 100gram  menggunakan alat refluks dan ditambahkan methanol sebanyak 200ml dan ditambahkan batu didih. Batu dididh berguna untuk membuat panasnya lebih merata. Lalu rangkai alat refluks dan hidupkan heating mantel lalu diekstraksi selama 60menit hingga ada tetesan yang menetes dari ujung alat (destilat). Jika hasil ekstak kira-kira sudah banyak di pekatkan menggunakan rotary evaporator. Fungsi rptary evaporator adalah memisahkan ekstrak dengan pelarut dengan menurunkan tekanan sehingga pelarut bias menguap dibawah titik didih nya, sehingga zat aktif yang akan kita isolasi tidak rusak karna tingginya suhu  pemanasan. Setelah larutan destilat sudah dipekatkan didapatkan lah ekstrak buah lada hitam. Ekstrak ini ditimbang dan hitung rendemen ekstrak yang di peroleh. Setelah ditimbang rendemen di dapatlah .

Lalu langkah selanjutnya adalah melakukan fraksinasi sampel ekstrak buah merica. Fungsi fraksinasi adalah engelompokkan senyawa ekstrak berdasarkan kepolarannya. Sampel ditimbang 10gram lalu larutkan dengan aquadest sebanyak 30ml, lalu masukkan kedalam corong pisah jika masih ada yang tidak larut larutkan lagi dengan aquadest 20ml, masukkan semuanya kedalam corong pisah. Lalu tambahkan 50ml n-heksana dan di gojog searah angka delapan selama beberapa saat, lalu letakkan corong pisah di statif dan klem yang sudah di pasangkan hingga larutan berpisah menjadi 2 lapisan, setelah terjadi 2 lapisan keluarkan lapisan air dan n-heksan secara terpisan lapisan bawah adalah air dan lapisan atas adalah n-heksan. Lapisan n-heksan di letakkan di beaker glass dan ditutup. Lapisan air di masukkan lagi kedalam corong pisah lalu tambahkan lagi n-heksan sebanyak 50ml lalu ulangi cara tadi. Setelah dilakukan sebanyak 3 kali, didapatkan lah larutan polar dan non polar. Larutan polar dimasukkan lagi kedalam corong pisah, kali ini dengan menambahkan kloroform sebanyak 50, lalukan cara seperti heksan sebanyak 3kali pengulangan. Setelah selesai di dapatlah 3 fraksi lada hitam yaitu fraksi n-heksan , fraksi kloroform dan fraksi air.

Setelah didapatkan 3 fraksi (air, n-heksan dan kloroform) kami menggunakan fraksi kloroform untuk dilakukan pemekatan, setelah selesai di pekat kan kami melakukan analisa komponen senyawa ekstrak dan fraksi menggunakan kromatografi lapis tipis. Kromatografi melibatkan pemisahan terhadap campuran berdasarkan perbedaan-perbedaan tertentu yang dimiliki oleh senyawanya. Perbedaan yang dapat dimanfaatkan meliputi kelarutan dalam berbagai pelarut serta sifat polar. Kromatografi biasanya terdiri dari fase diam (fase stasioner) dan fase gerak (fase mobile). Fase gerak membawa komponen suatu campuran melalui fase diamdan fase diam akan berikatan dengan komponen tersebut dengan afinitas yang berbeda-beda. Didapatlah hasil fraksinasi sebanyak 1,295.

Disini kami menggunakan kromatografi kertas dimana menggunakan selulosa yang bersifat polar sehingga senyawa yang polar akan tertahan lebih lama disbanding senyawa lainnya. Fase gerak akan membawa senyawa senyawa non polar dan semi polar sehingga noktah tertinggi adalah noktah semi polar atau non polar. Sedang kan noktah terendah adalah senyawa polar. Jika ada 2 noda dalam 1 arah maka senyawa itu bias dikatakan belum murni, tetapi jika hanya ada 1 noda berati senyawa yang kita elusi sudah murni. Dimana noktah ekstrak 1.6cm noda kloroform 1.9cm dan noktah n-heksan 2.4cm dimana jarak tempuh pelarut adalah 4cm. didapatlah nilai Rf ekstrak 0.4 , Rf kloroform 0.47, Rf heksana 0.6. Nilai Rf yang didapatkan adalah baik karna kurang dari 0.8.

            Setelah dilakukan kromatografi kertas dilakukan kromatografi kolom. Tujuan kromatografi kolom juga untuk mengelompokkan senyawa. Hal yang pertama dilakukan adalah melakukan penyiapan kolom, statif dan klem. Fase diam yang digunakan adalah bubur silica. Masukkan kapas sedikit kedalam leher kolom dan dibantu dengan lidi, kapas berguna untuk menyaring yang akan masuk kedalam vial. Lalu Membuat bubur silica dengan membasahi silica dengan n-heksan lalu dimasukkan kedalam kolom menggunakan pipet tetes secara perlahan lahan. Lalu setelah kolom penuh buka keran yang di kolom agar n-heksan mengaliri semua pori dari silica, tambah terus n-heksan jangan sampai silica kering karna bias menyebabkan buih di dalam silica, setelah 10 menit di elusi dengan n-heksan lakukan pre absorbsi.  masukkan ekstrak kedalam kolom lalu tambahkan n-heksan dan buat variasi pelarut. Variasi perbandingan pelarutnya adalah n-heksan banding etil asetat yaitu n-heksan 100% , 9:1 , 8:2 , 7:3 , 6:4 dan etil 100%.  Setiap pelarut akan mengaliri asilica dan di tamping oleh vial yang sudah di nomori dan di dapatlah 46 vial. Lalu dilakukan kromatografi sehingga didapkan lah 5 fraksi.

           









                        Dari praktikum fitokimia ini yang dilakukan di lab kimia bahan alam di stifar dapat disimpulkan bahwa

1.      Skrining fitokimia adalah tahapan awal untuk mengidentifikasi kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, krna pada tahap ini kita bisa mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung tumbuhan yang sedang kita uji/teliti.

2.      Metabolit sekunder yang ada pada tanaman adalah alkaloid, fenolik, terpenoid, saponin, flavonoid, steroid,dll

3.      Sampel yang digunakan adalah buah pala dan lada hitam

Buah pala memiliki kandungan: alkaloid, terpenoid, dan fenolik

Lada hitam memiliki kandungan: alkaloid, terpenoid, dan saponin

4.      Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan.

5.      Fraksi yang didapat kan adalah fraksi air , fraksi n-heksan dan fraksi kloroform

6.      % rendemen ekstrak yang didapat adalah 236.7303%

7.      Rf masing masing fraksi

Rf ekstrak 0.4

Rf kloroform 0.47

Rf heksana 0.6

8.      Didapat 5 fraksi dalam kromatografi kolom








           





Suwarni Elis, Cahyaningsih Erna, Meriyani Herleeyana. 2015. Penuntun Praktikum Fitokimia. Akademi Farmasi Saraswati Denpasar

Harborne. J.B.,1987. Metode Fitokimia , terjemahan K. Radmawinata dan I. Soediso, 69-94, 142-158, 234-238. Bandung : ITB Press



Hariana, Arief, H, DRS, 2007, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Penebar Swadaya, Depok (73).

Wiryowidagdo, Sumaali, Prof, 2007, Kimia dan Farmakologi Bahan Alam, Buku Kedokteran

EGC, Jakarta.



Amaliana, Lia, Nur, 2008, Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol 70 % Buah MericaHitam (Piper Nigrum L.) Terhadap Sel Hela, Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.



Howard, Ansel, C, 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta

\

Sastrohamidjojo, Hardjono, 1996, SumberBahan Alam, UGM Press, Yogyakarta




Komentar

Postingan populer dari blog ini

preformulasi sediaan teknologi sediaan steril

BAB I PENDAHULUAN I.I TINJAUAN PUSTAKA             Preformulasi terdiri dari kata pre yang artinya sebelum dan formulasi yang artinya perumusan atau penyusunan. Dibidang farmasi preformulasi dapat diartikan sebagai langkah awal yang dilakukan ketika akan membuat formula suatu obat.                preformulasi meliputi pengkajian tentang karakteristik/sifat-sifat dari bahan obat dan bahan tambahan obat yang akan diformulasi.             I.II Tujuan Preformulasi Membuat formula yang tepat sehingga menghasilkan produk akhir berupa sediaan farmasi yang stabil, berkhasiat, aman dan nyaman ketika digunakan. Pertimbangan Umum Preformulasi Sebelum membuat formula sediaan obat, beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu : Bentuk sediaan yang akan dibuat Bentuk sediaan farmasi yaitu bentuk padat (puyer, tablet, kapsu...

sediaan steril

BAB I PENDAHULUAN 1.1   Latar Belakang Sediaan parental yang diberikan secara penyuntikan intravena, subkutan, dan intramuscular merupakan rute pemberian obat yang kritis jika dibandingkan dengan pemberian obat-obatan secara oral. Semakin meningkatnya perkembangan ilmu bioteknologi telah meningkat pula jumlah yang diproduksi secara bioteknologi seperti obat peptide dan atau produk gen. pada abad mendatang (sekarang sudah mulai) beberapa obat peptide dan obat lainnya akan dihasilkan menurut prinsip bioteknologi. Penyuntikan yang diperlukan, baik untuk respon terapeutik yang cepat maupun  untuk obat yang tidak tersedia untuk rute non-injeksi. Penggunaan awal sediaan parental menimbulkan banyak masalah dan berkembang relative lambat. Padahal Pasteur dan Lister telah mengetahui pentingnya melakukan sterilisasi untuk mengeliminasi mikroorganisme pathogen sejak tahun 1860-an. Tetapi, teknologi sterilisasi tidak berkembang secara signifikan. Sebagai contoh, autoklaf sudah...

Kesenjangan Akses Terhadap Informasi Kesehatan di Komunitas Berpendapatan Rendah

  Kesenjangan Akses Terhadap Informasi Kesehatan di Komunitas Berpendapatan Rendah A. Kesenjangan Akses Terhadap Informasi Kesehatan di Komunitas Berpendapatan Rendah Abstrak Kesenjangan akses terhadap informasi kesehatan di komunitas berpendapatan rendah merupakan isu yang signifikan yang dapat memengaruhi kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Makalah ini membahas berbagai faktor penyebab kesenjangan, termasuk keterbatasan infrastruktur, tingkat pendidikan, keterbatasan ekonomi, hambatan sosial dan budaya, serta kurangnya dukungan pemerintah. Solusi potensial juga disajikan untuk mengurangi kesenjangan ini melalui kolaborasi berbagai pihak. B. Pendahuluan   Informasi kesehatan yang akurat dan tepat waktu merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap individu. Namun, akses terhadap informasi ini tidak merata, terutama di komunitas berpendapatan rendah. Faktor ekonomi, geografis, dan sosial sering menjadi hambatan utama dalam mengakses informasi kesehatan. Menurut WHO (2020)...