BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara
yang dikenal dengan alamnya yang kaya dengan tanaman berkhasiat untuk
pengobatan penyakit secara tradisional, salah satunya adalah tanaman lada hitam
(piper ningrum L) Supaya obat
tradisional dapat diterima di kalangan praktek kedokteran, maka pengembangan
terus didasarkan pada prinsip-prinsip pengembangan obat dalam kedokteran
modern. Hasil-hasil yang secara empirik harus pula didukung oleh bukti-bukti
ilmiah adanya manfaat klinik obat serta keamanan pemakaian pada manusia.
Tanaman lada hitam (piper ningrum L) merupakan salah satu
tanaman obat yang memiliki banyak manfaat, sehingga menarik perhatian para ahli
untuk meneliti dan mengembangkannya dalam rangka eksplorasi obat baru yang
berasal dari alam. Sejauh ini bukti ilmiah efek herba pegagan sebagai
antipiretik belum diketahui. Tanaman pegagan seringkali dimanfaatkan oleh
masyarakat Indonesia sebagai obat alternatif untuk mengobati berbagai macam
penyakit seperti wasir, demam, pembengkakan hati atau liver, bisul, darah
tinggi, penambah daya ingat, campak, amandel, sakit perut dan kurang nafsu
makan. Penelitian tentang tanaman obat di Indonesia untuk pengobatan demam
memang sudah banyak dilakukan, tetapis penelitian tentang tanaman pegagan untuk
pengobatan demam belum dilakukan Dengan
dasar inilah yang mendorong peneliti melakukan penelitian ini sehingga
diharapkan dalam pegagan dapat digunakan sebagai obat alternatif yang berkhasiat
sebagai antipiretik yang berguna bagi perkembangan pengobatan tradisional
terutama dalam perkembangan ilmu pengkulturan tanaman.
Fitokimia
atau kadang disebut fitonutrien,
dalam arti luas adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan, termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan
umum, fitokimia memiliki definisi yang lebih sempit. Fitokimia biasanya
digunakan untuk merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang
tidak dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tetapi memiliki efek yang
menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Karenanya, zat-zat ini berbeda
dengan apa yang diistilahkan sebagai nutrien dalam pengertian tradisional,
yaitu bahwa mereka bukanlah suatu kebutuhan bagi metabolisme normal, dan ketiadaan
zat-zat ini tidak akan mengakibatkan penyakit defisiensi,
paling tidak, tidak dalam jangka waktu yang normal untuk defisiensi tersebut.
I.II Tujuan Praktikum
a. Mahasiswa mampu melakukan proses ekstraksi dengan
metode refluks
b. mahasiswa mampu melakukan fraksinasi dan separasi
unuk dapat mengisolasi senyawa alkaloid dari buah merica (piper nigrum L).
c. mahasiswa mampu melakukan identifikasi dan
karakterisasi senyawa alkaloid hasil isolasi]
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.I Klasifikasi Tumbuhan
Buah lada hitam mengandung bahan aktif seperti amida
fenolat, asam fenolat, dan flavonoid yang bersifat antioksidan sangat kuat.
Selain mengandung bahan-bahan antioksidan, lada hitam juga mengandung piperin
yang diketahui berkhasiat sebagai obat analgesik, antipiretik, anti inflamasi,
serta memperlancar proses pencernaan (Meghwal dan Goswami, 2012).
Kandungan
lada hitam sangat beranekaragam dan piperin merupakan kandungan utama serta
kavisin yang merupakan isomer dari piperin.
Piperin adalah senyawa alkaloid (Evan, 1997) yang paling banyak
terkandung dalam lada hitam dan semua tanaman yang termasuk dalam famili
Piperaceae. Senyawa amida (piperin)
berupa kristal berbentuk jarum, berwarna kuning, tidak berbau, tidak berasa,
lama-kelamaan pedas,
Larut
dalam etanol, asam cuka, benzena, dan kloroform
(Amaliana, 2008). Piperin
memiliki manfaat sebagai anti-inflamasi, antiarthritik (Bang et al., 2009;
Sudjarwo, 2005), analgesik (Sudjarwo, 2005), depresan sistem safaf pusat dan
anticonvulsan(Deepthi et al., 2012).
Kombinasi
zat-zat yang terkandung mengakibatkan lada hitam memiliki rasa pedas, berbau
khas dan aromatik. Kandungan zatyang
memberikan warna, bau dan aroma dalam lada hitam adalah α-terpinol,
acetophenone, hexonal, nerol, nerolidol, 1,8 cineol, dihydrocarveol, citral,
α-pinene dan piperolnol (Murthy dan Bhattacharya, 2008). .Piperin memiliki banyak efek farmakologi
yaitu sebagai antiinflamasi, antimikroba, hepatoprotektor, antikanker dan
meningkatkan efek antioksidan sel.
Piperin mampu melindungi sel dari kanker dengan mengikat protein di
mitokondria sehingga memicu apoptosis tanpa merusak sel-sel yang normal melalui
peningkatan aktivitas enzim antioksidan seperti superoxide dismutase, catalase
dan glutathione peroxidase (Selvendiran et al., 2003). Piperinjuga berkhasiat sebagai antioksidan,
antidiare, dan insektisida (Namara, 2005).
Lada
hitam juga mengandung alkaloid, flavonoid, dan komposisi aromatik, dan senyawa
amida (Agbor et al., 2006). Struktur senyawa piperin (Epstein, 1993)Flavonoid
merupakan golongan metabolit sekunder yang terbesar dalam dunia tumbuhan dan
termasuk golongan polifenol. Senyawa
flavonoid adalah senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon, terdiri dari
2 cincin benzena yang dihubungkan menjadi satu oleh rantai yang terdiri dari 3
atom karbon yang juga dapat ditulis sebagai sistem C6 – C3 – C6. Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan
cara mendonasikan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat logam,
berada dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam
bentuk bebas yang disebut aglikon (Cuppett et al.,1954). Sebuah studi mengenai analisis struktur
persenyawaan genus Piperaceae, telah diidentifikasi 5 amida fenolat dari Piper
nigrum, 7 senyawa dari P. retrofractum dan 2 senyawa dari P. baccatum.
Semua
senyawa amida fenolat tersebut memiliki aktivitas antioksidan yang lebih
efektif daripada antioksidan alami yaitu α− tokoferol. Satu senyawa amida fenolat yakni feruperine
memiliki aktivitas antioksidan yang sama tingginya dengan antioksidan sintetik
butil hidroksi anisol (BHA) dan butil hidroksi toluena (BHT). Contoh senyawa amidafenolat antara lain
acetyl coumaperine, NTrans-feruloyl piperidine, N-Trans-feruloyl tyramine,dan
piperic acid (Nakatani et al.,1986 Asam
fenolat merupakan salah satu jenis metabolit sekunder yang banyak ditemukan
dalam berbagai jenis tumbuhan. Turunan
asam hidroksibenzoat dan asam hidroksisinamat adalah jenis asam fenolat yang
banyak terdapat pada tumbuhan. Contoh
senyawa asam fenolat adalah asam p-kumarat Seperti senyawa flavonoid, asam
fenolat menetralkan radikal bebas dengan melepaskan proton (atom hidrogen)
(Mattila dan Helstrom, 2006).
Kandungan
kimia lain dalam lada hitam adalah saponin, minyak atsiri, kavisin, resin, zat
putih telur, amilum, piperilin, piperolein, poperanin, piperonal,
dihdrokarveol, kanyofillene oksida, kariptone, trans piocarrol, danminyak
lada. Lada hitam banyak dimanfaatkan
sebagai rempah-rempah danobat. Lada juga memiliki manfaat untuk kesehatan,
antara lain melancarkanpencernaan dengan meningkatkan sekresi asam lambung
(Zeladmin, 2012),melonggarkan saluran pernapasan,dan melancarkan aliran darah
di sekitarkepala. Lada hitam termasuk bahan alami yang berpotensi sebagai
afrodisiak.Hal ini disebabkan kandungan piperin yang meningkatkan gairah seks
(Yunita, 2010).
Klasifikasi Lada
Hitam
Menurut Tjitrosoepomo
(2007), klasifikasi tanaman lada adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi :
Angiospermae
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Piperales
Familia : Piperaceae
Genus : Piper
Species : Piper nigrum L
II.2 Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia atau penapisan
kimia adalah tahapan awal untuk mengidentifikasi kandungan kimia yang
terkandung dalam tumbuhan, krna pada tahap ini kita bisa mengetahui golongan
senyawa kimia yang dikandung tumbuhan yang sedang kita uji/teliti.
Metode yang digunakan dalam skrining
fitokimia harus memiliki persyaratan :
a. Metodenya sederhana dan cepat
c.
Selektif
dalam mengidentifikasi senyawa-senyawa tertentu
d. Dapat memberikan informasi tambahan
mengenai keberadaan senyawa tertentu dalam kelompok senyawa yang diteliti.
Golongan senyawa kimia dapat
ditentukan dengan cara:
1. Uji warna
2. Penentuan kelarutan
3. Bilangan rf
4. Ciri spektrum uv
5. Namun secara umum penentuan golongan
senyawa kimia dilakukan denga cara uji warna dengan menggunakan pereaksi yang
spesifik karena dirasakan lebih sederhana.
Senyawa kimia berdasarkan asal
biosintesis, sifat kelarutan, gugus fungsi digolongkan menjadi :
·
Senyawa
fenol, bersifat hidrofil, biosintesisnya berasal dari asam shikimat
·
Terpenoid,
berasal dari lipid, biosintesisnya berasal dari isopentenil pirofosfat
·
Asam
organik, lipid dan sejenisnya, biosintesisnya berasal dari asetat
·
Senyawa
nitrogen, bersifat basa dan bereaksi positif terhadap ninhidrin atau dragendorf
·
Gula
dan turunannya
·
Makromolekul,
umumnya memiliki bobot molekul yang tinggi
Sedangkan berdasarkan biogenesisnya
senyawa bahan alam dikelompokkan menjadi :
·
Asetogenin
: flavonoid, lipid, lignan, dan kuinon
·
Karbohidra
: monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida
·
Isoprenoid
: tepenoid, steroid, karotenoid
·
Senyawa
mengandung nitrogen : alkaloid, asam amino, protein, dan nukleat
Dari
semua kelompok senyawa, skrining fitokimia
umumnya hanya dilakukan terhadap kelompok senyawa fenol, terpenoid, dan senyawa nitrogen.
1. Senyawa
fenol
Senyawa fenol ditandai dengan
struktur cincin aromatik yang mengandung satu atau dua penyulih hidroksil.
Cendrung mudah larut dalam air, contoh senyawa : polifenol, flavonoid, tanin
dan quinon.
2. Senyawa
terpenoid
Terpenoid tersusun dari
molekul unit isoprena (c5), digolongkan berdasarkan jumlah isoprena dari
senyawa tersebut, seperti: monoterpen, dua isopren (c10), tiga isopren (c15),
empat (c20), c25, c30, c35, c40 :
·
Monoterpen
(c10) dan seskuiterpen (c15) : mudah menguap, komponen minyak atsiri
·
Diterpen
(c20) : lebih sukar menguap
·
Triterpen
(c30) : sterol dan saponin (senyawa yang tidak menguap)
Pigmen karetonoid : tetraterpenoid
(c40).
3. Senyawa nitrogen
Senyawa nitrogen yang ada pada
tumbuhan seperti : asam amino, amina, alkaloid, glikosida, sianogen, porfirin,
purin, piridin, sitokinin dan klorofil (pigmen porifirin), tetapai kelah
terbesar dari senyawa nitrogen adalah alkaloid.
Masalah
pada skrining fitokimia biasanya adalah kesalahan menafsirkan hasil analisis
pengujian/skrining, seperti :
a. Reaksi
positif palsu adalah
hasil pengujian menyatakan ada (positif), tapi sebenarnya tidak ada (negatif),
hal ini bisa disebabkan kesalahan alat, atau pengaruh senyawa yang memiliki
kesamaan sifat maupun struktur atom yang identic
b. Reaksi
negatif palsu adalah hasil pengujian menyatakan
tidak ada (negatif), tapi sebenarnya ada (positif), hal ini bisa disebabkan
kurang sensitifnya alat, atau karena kadar didalam bahan uji terlalu sedikit,
atau bahan ujinya (ekstrak simplisia) tidak memenuhi syarat, oleh karena itu
senyawa yang tadinya ada hilang/rusak karna reaksi enzimatik maupun hidrolisis.
II.3 Metabolit Sekunder
Senyawa metabolit sekunder
merupakan senyawa yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan
ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan
lainnya. Metabolit sekunder adalah berbagai macam reaksi yang produknya tidak
secara langsung terlibat dalam pertumbuhan normal. Dalam hal ini metabolit
sekunder berbeda dengan bahan metabolit intermediet yang memang merupakan
produk dari metabolisme normal.
Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang
berbeda-beda, bahkan satu jenis senyawa metabolit sekunder hanya ditemukan pada
satu spesies dalam suatu kingdom. Senyawa ini selalu dihasilkan
tetapi pada saat dibutuhkan atau pada fase-fase tertentu. Fungsi metabolisme
sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang
menguntungkan misalnya mengatasi dari hama dan penyakit.
Senyawa metabolit sekunder banyak sekali jumlahnya. Menurut Springob dan
Kutchan (2009), ada lebih dari 200000 struktur produk alamiah atau produk
metabolit sekunder. Untuk memudahkan, perlu dibuat klasifikasi. Ada beberapa
cara klasifikasi bisa dibuat, seperti berdasarkan sifat struktur, asal-usul
biosintesis, atau lainnya.
Berdasarkan sifat strukturnya, Hanson (2011) membagi metabolit sekunder ke
dalam 6 golongan, yaitu :
1) Poliketida dan asam lemak,
2) Terpenoid dan steroid,
3) Fenilpropanoid,
4) Alkaloid,
5) Asam amino khusus dan peptida, dan
6) Karbohidrat khusus.
Berdasarkan kandungan N, Wink (2010) membagi metabolit sekunder ke dalam dua
kelompok besar, yaitu:
1)
Metabolit sekunder yang mengandung N
2)
Metabolit sekunder yang tidak mengandung N.
Berdasarkan asal-usul biosintesisnya, Springob dan Kutchan (2009) membagi
metabolit sekunder menjadi empat kelompok, yaitu :
1)
Alkaloid,
2)
Fenilpropanoid,
3)
Poliketida, dan
4)
Terpenoid.
Kandungan
Metabolit Sekunder
Secara umum
kandungan metabolit sekunder dikelompokkan berdasarkan sifat dan reaksi khas
suatu metabolit sekunder dengan pereaksi tertentu. Adapun pengelompokkan
kandungan metabolit sekunder pada bahan alam hayati adalah sebagai berikut :
1. Alkaloid
Alkaloid
merupakan kelompok senyawa yang mengandung nitrogen dalam bentuk gugus fungsi
amin. Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang besar. Pada
umumnya, alakaloid mencakup senyawa yang bersifat basa yang mengandung satu
atau lebih atom N sebagai bagian dalam surem siklik. Alkaloid kebanyakan
ditemukan pada Angiospermae dan jarang pada Gymnospermae dan Cryptogamae.
Senyawa ini cukup banyak jenisnya dan terkadang memiliki struktur kimia yang
sangat berbeda satu sama lain, meskipun berada dalam satu kelompok.
Alkaloid
sering kali beracun bagi manusia dan memiliki kegiatan fisiologi yang menonjol
dan sering digunakan dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tanpa warna dan
bersifat optis aktif. Alkaloid biasanya berbentuk kristal dan jarang berbentuk
cairan. Alkaloid tidak dapat diidentifikasi dengan ekstrak tumbuhan dengan
menggunakan kromatografi tunggal. Biasanya alkaloid diidentifikasi dengan
diekstraksi menggunakan pelarut alkohol yang bersifat lemah dan diendapkan ke
dalam ammonia pekat. Pemurnian selanjutnya dilaksanakan dengan ekstraksi.
Adanya alkaloid dapat diuji dengan menggunakan berbagai pereaksi
alkaloid. Adalima golongan alkaloid, yaitu tembakau, tropana, opium,
ergat, dan kavolfia.
Pengelompokan alkaloid biasanya didasarkan pada prekursor pembentuknya. Kebanyakan
dibentuk dari asam amino seperti lisin, tirosin, triptofan, histidin dan
ornitin. Sebagai contoh, nikotin dibentuk dari ornitin dan asam nikotinat.
Beberapa kelompok alkaloid disajikan dalam tulisan ini. Diantaranya adalah
kelompok alkaloid benzil isoquinon, seperti: papaverin, berberin, tubokurarin
dan morfin. Jenis alkaloid yang banyak terdapat pada famili Solanaceae,
tergolong ke dalam kelompok alkaloid tropan, seperti: atropin, yang ditemukan
pada Atropa belladona dan skopolamin. Kokain yang berasal dari tumbuhan koka,
Erythroxylon coca, juga termasuk ke dalam kelompok ini, meskipun koka tidak
termasuk anggota famili Solanaceae. Alkaloid dengan struktur inti berupa indol,
dikelompokkan sebagai alkaloid indol, seperti: strikhnin dan quinin yang berasa
pahit dan merupakan senyawa penolak makan bagi serangga. Kelompok alkaloid
pirrolizidin merupakan ester alkaloid pada genus Senecio, seperti: senecionin.
Kelompok lain dari alkaloid yang berasal asam amino lisin adalahquinolizidin
yang sering disebut sebagai alkaloid lupin karena banyak terdapat pada genus
Lupinus. Alkaloid polihidroksi memiliki stereokimia yang mirip dengan gula,
sehingga mengganggu kerja enzim glukosidase. Kelompok alkaloid polihidroksi
merupakan penolak makan bagi serangga. Beberapa jenis alkaloid merupakan
derivat dari asam nikotinat, purin, asam antranilat, poliasetat dan terpenes.
Mereka dikelompokkan ke dalam alkaloid purin, seperti: kafein.
2. Triterpenoid
/ Steroid
Triterpenoid adalah sekelompok senyawa turunan asam mevalonat. Semua jenis
triterpenoid dipisahkan dengan cara yang sama, yaitu berdasarkan KLT dan KGC.
Identitas dipastikan dengan menentukan titik didih. Triterpenoid tersebar luas
dalam dammar, gabas, dan kutin tumbuhan. Asam damar adalah asam triterpenoid
yang sering bersama-sama dengan gompolisakarida dalam damar gom.
Triterpenoid yang paling penting dan tersebar luas adalah triterpenoid
pentasiklik. Senyawa ini ditemukan dalam tumbuhan seprimitif sphagrum, tetapi
yang paling umum pada tumbuhan berbiji. Pada pemeriksaan triterpenoid dalam
tumbuhan, jaringan kering harus dihilangkan lemaknya, lalu diekstraksi dengan
methanol panas. Selanjutnya, ekstrak metanol yang telah dihidrolisis dapat
diperiksa langsung. Uji deteksi lain yang digunakan adalah uji deteksi yang
dipakai untuk triterpenoid secara umum, misalnya H2SO4 saja
atau diencerkan dengan air alkohol.
Terpenoid
merupakan kelompok metabolit sekunder terbesar. Saat ini hampir dua puluh ribu
jenis terpenoid telah teridentifikasi. Kelompok ini merupakan derivat dari asam
mevalonat atau prekursor lain yang serupa dan memiliki keragaman struktur yang
sangat banyak. Struktur terpenoid merupakan satu unit isopren (C5H8) atau
gabungan lebih dari satu unit isopren, sehingga pengelompokannya didasarkan
pada jumlah unit isopren penyusunnya.
Monoterpenoid umumnya bersifat
volatil dan biasanya merupakan penyusun minyak atsiri. Monoterpenoid memberikan
aroma yang khas pada tumbuhan. Monoterpenoid dikelompokkan sebagai :
a. Asiklik, contoh : geraniol
b. Monosiklik, contoh:
limonene
c. Bisiklik, contoh: pinene
3.
Fenolik
Fenolik
merupakan kelompok senyawa aromatis dengan gugus fungsi hidoksil. Cara klasik
untuk mendeteksi senyawa fenol sederhana ialah dengan menambahkan larutan besi
(II) klorida 1 %. Pigmen fenolik warnanya dapat dilihat selama proses isolasi
dan proses pemurnian. Salah satu golongan fenolik yaitu melamin tumbuhan pada
penguraian basa yang menghasilkan fenol sederhana. Fenolik merupakan senyawa
yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Fenolik memiliki cincin aromatik dengan
satu atau lebih gugus hidroksi (OH-) dan gugus-gugus lain penyertanya. Senyawa
ini diberi nama berdasarkan nama senyawa induknya, fenol. Senyawa fenol
kebanyakan memiliki gugus hidroksi lebih dari satu sehingga disebut sebagai polifenol.
Fenol biasanya dikelompokkan berdasarkan jumlah atom karbon pada kerangka
penyusunnya.
Kelompok
terbesar dari senyawa fenolik adalah flavonoid, yang merupakan senyawa yang
secara umum dapat ditemukan pada semua jenis tumbuhan. Biasanya, satu jenis
tumbuhan mengandung beberapa macam flavonoid dan hampir setiap jenis tumbuhan
memiliki profil flavonoid yang khas. Flavonoid adalah kelompok senyawa fenil
propanoid dengan kerangka karbon C6-C3-C6.
Flavonoid merupakan senyawa yang larut dalam air dan dapat diekstraksi dengan
etanol 70%. Flavonoid merupakan senyawa fenol. Oleh karena itu, warnanya akan
berubah jika bertambah basa atau ammonia. Inti flavonoid biasanya berikatan
dengan gugusan gula sehingga membentuk glikosida yang larut dalam air. Pada tumbuhan,
flavonoid biasanya disimpan dalam vakuola sel.
Flavonoid
dan isoflavonoid adalah salah satu golongan senyawa metabolit sekunder yang
banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan, khususnya dari golongan leguminoceae
(tanaman berbunga kupu-kupu). Kandungan senyawa flavonoid dalam tanaman sangat
rendah yaitu sekitar 25 %. Senyawa-senyawa tersebut pada umunya dalam keadaan
terikat / konjugasi dengan senyawa gula.
Secara
umum, flavonoid dikelompokkan lagi menjadi kelompok yang lebih kecil (sub
kelompok), yaitu:
a. Flavon, contoh: luteolin
b. Flavanon, contoh: naringenin
c. Flavonol, contoh: kaempferol,
d. Antosianin dan
e. Calkon.
Beberapa
jenis flavon, flavanon dan flavonol menyerap cahaya tampak, sehingga membuat
bunga dan bagian tumbuhan yang lain berwarna kuning atau krem terang. Sedangkan
jenis-jenis yang tidak berwarna merupakan zat penolak makan bagi serangga
(contoh: katecin) ataupun merupakan racun (contoh: rotenon). Rutin, yang
merupakan glikosida flavonol yang tersebar di hampir semua jenis tumbuhan, juga
merupakan zat penolak makan yang kuat bagi serangga polifagus, seperti
Schistocerca americana. Sementara itu paseolin, dilaporkan merupakan glikosida
flavonol yang paling efektifsebagai zat penolak makan bagi serangga. Pada
percobaan dengan kumbang pemakan akar, Costelytra zealandica, paseolin
memberikan nilai FD50 yang sangat rendah, yaitu 0.03 ppm. Tanin merupakan senyawa
polifenol dengan berat molekul antara 500 sampai dengan 20000 dalton. Pada sel
tumbuhan, tanin selalu berikatan dengan protein sehingga disebut merupakan zat
yang menurunkan nilai nutrisi dari jaringan tumbuhan bagi pemakannya.
4. Saponin
Saponin adalah
kelompok senyawa dalam bentuk glikosida atau steroid. Saponin merupakan senyawa
aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada
konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam
larutan yang sangat encer, saponin sangat beracun untuk ikan dan tumbuhan yang
mengandung saponin telah digunakan sebagai racun ikan selama beratus-ratus
tahun. Beberapa saponin juga digunakan sebagai anti mikroba.
Saponin
memiliki karakteristik berupa buih. Sehingga ketika direaksikan dengan air dan
dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut
dalam air dan tidak larut dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit menusuk dan
menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lendir. Jika digunakan dengan
benar saponin dapat bermanfaat sebagai sumber anti bakteri dan
anti virus, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas,
mengurangi kadar gula dalam darah, dan mengurangi penggumpalan darah.
Dikenal dua
jenis saponin, yaitu glikosida triterpenoid alkohol dan glikosida struktur
steroid. Kedua jenis saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut
dalam eter. Saponin steroid paling umum ditemukan dalam keluarga liliceae,
amarillidaceae, dan droscoreaceae.
5. Kumarin
Kumarin adalah
kelompok senyawa fenil provanoid dengan kerangka benzene dan pirin C6-C3.
Hampir semua kumarin alam mempunyai oksigen. Kumarin terdapat dalam semua
bagian tumbuhan dan tersebar luas di dunia tumbuhan, tetapi yan terutama
terdapat dalam rumput-rumputan (graminae), angrek, jeruk (rutaceae), dan
polong-polongan (leguminasae). Kumarin yang paling umum terdapat pada tumbuhan
tinggi ialah skopoletin.
Kumarin mempunyai berbagai efek fisiologi terhadap tumbuh-tumbuhan dan
hewan. Pada tumbuhan efeknya adalah menghambat atau menstimulasi asam
indol-3-asetat oksidase, menstimulasi produksi etilena, menghambat sintesis
selulosa. Pada hewan, kumarin mempunyai efek toksik terhadap mikroorganisme dan
dapat membunuh serangga.
6. Zat
warna Kuinon
Kuinon
adalah senyawa berwarna yang mencapai kromospor dasar, seperti kromospor pada
benzo kuinon yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua
ikatan rangkap karbon. Untuk mengidentifikasi kuinon, dapat dipilih empat
kelompok, yaitu benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon, kuinon isoprenoid. Tiga
kelompok pertama biasanya terhidrolisasi dan bersifat senyawa fenol. Dengan
demikian, diperlukan hidrolisis asam untuk melepaskan kuinon bebasnya.
7.
Glukosinolat dan Sianogenik
Glukosinolat
Glukosinolat merupakan metabolit
sekunder yang dibentuk dari beberapa asam amino dan terdapat secara umum pada
Cruciferae (Brassicaceae). Glukosinolat dikelompokkan menjadi setidaknya 3
kelompok, yakni :
a. Glukosinolat alifatik
(contoh: sinigrin), terbentuk dari asam amino alifatik (biasanya metionin),
b. Glukosinolat aromatik
(contoh: sinalbin), terbentuk dari asam amino aromatik (fenilalanin atau
tirosin) dan
c. Glukosinolat indol,
yang terbentuk dari asam amino indol (triptofan).
Keragaman jenis glukosinolat tergantung pada modifikasi ikatannya dengan gugus
lain melalui hidroksilasi, metilasi dan desaturasi. Hidrolilis dari
glukosinolat terjadi karena adanya enzim mirosinase, sehingga menghasilkan
beberapa senyawa beracun seperti isotiosianat, tiosianat, nitril, dan
epitionitril. Senyawa-senyawa tersebut merupakan racun bagi serangga yang bukan
spesialis pemakan tumbuhan Cruciferae, dan merupakan zat penolak makan bagi
ulat kilan, Trichoplusiani.
Sianogenik
Semua
jenis tumbuhan mempunyai kemampuan untuk mensintesis glikosida sianogenik.
Namun, tidak semua jenis tumbuhan mengumpulkan senyawa ini dalam sel-selnya.
Pada famili Rosaceae, senyawa ini disimpan pada vakuola. Pada saat sel tumbuhan
dirusak, glikosida sianogenik akan dihidrolisis secara enzimatis menghasilkan
asam sianida (HCN) yang sangat beracun dan merupakan zat penolak makan serangga
dengan spektrum yang luas.
II.4 Metoda Ekstraksi
Ekstraksi adalah Ekstraksi merupakan
proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran berdasarkan proses
distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Ekstraksi pelarut umumnya digunakan
untuk memisahkan sejmlah gugus yang diinginkan dan mungkin merupakan gugs
pengganggu dalam analisis secara keseluruhan. Kadang-kadang gugus-gugs
pengganggu ini diekstraksi secara selektif.
II.4.1 Sokletasi
Adapun prinsip sokletasi ini yaitu :
Penyaringan yang berulang ulang sehingga hasil yang didapat sempurna dan
pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila penyaringan ini telah selesai,
maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Metode
sokletasi menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan
senyawa organik yang terdapat pada bahan tersebut, tapi tidak melarutkan zat
padat yang tidak diinginkan
Metoda sokletasi seakan merupakan
penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. Jika pada metoda pemisahan
minyak astiri ( distilasi uap ), tidak dapat digunakan dengan baik karena
persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil
atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi
ini, maka cara yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah
sokletasi
Sokletasi digunakan pada pelarut
organik tertentu. Dengan cara pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah
dingin secara kontunyu akan membasahi sampel, secara teratur pelarut tersebut
dimasukkan kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan
diisolasi tersebut. Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu
distilasi yang diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut
dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat
ditemui pada suatu zat padat, maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut
yang diinginkan.
Metoda
sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi.
Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ), tidak dapat
digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau
yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang
diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini, maka cara yang terbaik yang
didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi.
Keunggulan sokletasi :
1. Sampel diekstraksi dengan
sempurna karena dilakukan berulang ulang.
2. Jumlah pelarut yang digunakan
sedikit.
3. Proses sokletasi berlangsung
cepat.
4. Jumlah sampel yang diperlukan
sedikit.
5. Pelarut organik dapat mengambil
senyawa organik berulang kali.
Kelemahan sokletasi :
1. Tidak baik dipakai untuk
mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang mudah rusak atau senyawa senyawa yang
tidak tahan panas karena akan terjadi penguraian.
2. Harus dilakukan identifikasi
setelah penyarian, dengan menggunakan pereaksi meyer, Na, wagner, dan reagen
reagen lainnya.
3. Pelarut yang digunakan mempunyai
titik didih rendah, sehingga mudah menguap.
Syarat
Pelarut yang digunakan
Syarat syarat pelarut yang
digunakan dalam proses sokletasi :
1. Pelarut yang mudah menguap Ex :
heksan, eter, petroleum eter, metil klorida dan alkohol
2. Titik didih pelarut rendah.
3. Pelarut tidak melarutkan senyawa
yang diinginkan.
4. Pelarut terbaik untuk bahan yang
akan diekstraksi.
5. Pelarut tersebut akan terpisah
dengan cepat setelah pengocokan.
6. Sifat sesuai dengan senyawa yang
akan diisolasi, polar atau nonpolar.
Ekstraksi
dilakukan dengan menggunakan secara berurutan pelarut – pelarut organik dengan
kepolaran yang semakin menigkat. Dimulai dengan pelarut heksana, eter,
petroleum eter, atau kloroform untuk memisahkan senyawa – senyawa trepenoid dan
lipid – lipid, kemudian dilanjutkan dengan alkohol dan etil asetat untuk
memisahkan senyawa – senyawa yang lebih polar. Walaupun demikian, cara ini
seringkali tidak. menghasilkan pemisahan yang sempurna dari senyawa – senyawa
yang diekstraksi.
Cara
menghentikan sokletasi adalah dengan menghentikan pemanasan yang sedang
berlangsung. Sebagai catatan, sampel yang digunakan dalam sokletasi harus
dihindarkan dari sinar matahari langsung. Jika sampai terkena sinar matahari,
senyawa dalam sampel akan berfotosintesis hingga terjadi penguraian atau
dekomposisi. Hal ini akan menimbulkan senyawa baru yang disebut senyawa
artefak, hingga dikatakan sampel tidak alami lagi.
II.3.2 Refluks
Refluks adalah salah satu metode dalam ilmu
kimia untuk mensintesis suatu senyawa, baik organik maupun anorganik. Umumnya
digunakan untuk mensistesis senyawa-senyawa yang mudah menguapa atau volatile.
Pada kondisi ini jika dilakukan pemanasan biasa maka pelarut akan menguap
sebelum reaksi berjalan sampai selesai. Prinsip dari metode refluks adalah
pelarut volatil yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi, namun akan
didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya dalam bentuk uap
akan mengembun pada kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi sehingga
pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung. Sedangkan aliran gas N2
diberikan agar tidak ada uap air atau gas oksigen yang masuk terutama pada senyawa
organ logam untuk sintesis senyawa anorganik karena sifatnya reaktif.
Prosedur dari sintesis dengan metode refluks adalahSemua reaktan atau bahannyadimasukkan dalam labu bundar leher tiga.Kemudian dimasukkan batang magnet stirer setelah kondensor pendingin air terpasangCampuran diaduk dan direfluks selama waktu ekstraksi yang telah di tentukan.
Pengaturan suhu dilakukan pada penangas air, minyak atau pasir sesuai dengan kebutuhan reaksi.Pelarut akan mengekstraksi dengan panas, terus akan menguap sebagai senyawa murni dan kemudian terdinginkan dalam kondensor, turun lagi kewadah, mengekstraksi lagi dan begitu terus.Demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyaringan sempurna
Penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam.
Prosedur dari sintesis dengan metode refluks adalahSemua reaktan atau bahannyadimasukkan dalam labu bundar leher tiga.Kemudian dimasukkan batang magnet stirer setelah kondensor pendingin air terpasangCampuran diaduk dan direfluks selama waktu ekstraksi yang telah di tentukan.
Pengaturan suhu dilakukan pada penangas air, minyak atau pasir sesuai dengan kebutuhan reaksi.Pelarut akan mengekstraksi dengan panas, terus akan menguap sebagai senyawa murni dan kemudian terdinginkan dalam kondensor, turun lagi kewadah, mengekstraksi lagi dan begitu terus.Demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyaringan sempurna
Penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam.
Filtrat
yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. Gas N2 dimasukkan pada salah satu
leher dari labu bundar.Dilakukan dengan menggunakan alat destilasi, dengan
merendam simplisia dengan pelarut/solven dan memanaskannya hingga suhu
tertentu. Pelarut yang menguap sebagian akan mengembung kembali kemudian masuk
ke dalam campuran simplisia kembali,dan sebagian ada yang menguap.Keuntungan
dan Kerugian Metode Refluks
Keuntungan dari metode refluks adalah: Digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar, danTahan pemanasan langsung.Kerugian dari metode refluks adalah: Membutuhkan volume total pelarut yang besar,danSejumlah manipulasi dari operator.
Keuntungan dari metode refluks adalah: Digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar, danTahan pemanasan langsung.Kerugian dari metode refluks adalah: Membutuhkan volume total pelarut yang besar,danSejumlah manipulasi dari operator.

II.3.3 Maserasi
Maserasi
adalah salah satu jenis metoda ekstraksi dengan sistem tanpa
pemanasan atau dikenal dengan istilah ekstraksi dingin, jadi pada metoda ini
pelarut dan sampel tidak mengalami pemanasan sama sekali. Sehingga maserasi
merupakan teknik ekstraksi yang dapat digunakan untuk senyawa yang tidak tahan
panas ataupun tahan panas.Namun biasanya maserasi digunakan untuk mengekstrak
senyawa yang tidak tahan panas (termolabil) atau senyawa yang belum diketahui
sifatnya. Karena metoda ini membutuhkan pelarut yang banyak dan waktu yang
lama. Secara sederhana, maserasi dapat kita sebut metoda “perendaman” karena
memang proses ekstraksi dilakukan dengan hanya merendam sample tanpa mengalami
proses lain kecuali pengocokan (bila diperlukan). Prinsip penarikan (ekstraksi)
senyawa dari sample adalah dengan adanya gerak kinetik dari pelarut, dimana
pelarut akan selalu bergerak pada suhu kamar walaupun tanpa pengocokan. Namun
untuk mempercepat proses biasanya dilakukan pengocokan secara berkala.
B.
Kelebihan Maserasi
Seperti
dijelaskan diatas maserasi dapat digunakan untuk jenis senyawa tahan panas
ataupun tidak tahan panas. Selain itu tidak diperlukan alat yang spesifik,
dapat digunakan apa saja untuk proses perendaman.
C.
Kekurangan Maserasi
Maserasi
membutuhkan waktu yang lama, biasanya paling cepat 3x24jam, disamping itu
membutuhkan pelarut dalam jumlah yang banyak.
Untuk
menjelaskan kelebihan dan kekurangan mari kita bahas secara prosedur.
dimana
sample dimasukkan ke dalam bejana (maserator) kemudian direndam dengan pelarut
sampai terendam sempurna dan tambahkan sekitar 1-2cm pelarut di atas permukaan
sample, kemudian tutup bagian atas untuk mencegah masuknya pengotor dan
penguapan pelarut, namun berikan sedikit lobang untuk mencegah terjadinya
letupan akibat penguapan pelarut. Perendaman dilakukan selama kurun waktu
tertentu, misalnya dilakukan selama 24 jam dengan diberikan pengadukan setiap
1-2 jam (kalau malem biarkan saja tidak perlu di aduk), proses pengadukan bukan
keharusan. Setelah 24 jam ganti pelarut dengan pelarut baru dan selanjutnya
perlakukan sama dengan yang pertama. Penggantian pelarut dilakukan untuk
mempercepat proses ekstraksi, karena pelarut pertama kemungkinan sudah jenuh
oleh senyawa sehingga tidak dapat melarutkan kembali senyawa yang diharapkan,
dan waktu pergantian tergantung kebutuhan tidak harus 24 jam.
Maserasi
dapat dilakukan modifikasi misalnya:
II.3.4 Digesti
Adalah
cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40˚ C - 50˚
C. Cara maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya
tahan terhadap pemanasan.
Dengan
pemanasan akan diperoleh keuntungan antara lain :
a. Kekentalan
pelarut berkurang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya lapisan-lapisan batas.
b. Daya
melarutkan cairan penyari akn meningkat, sehingga pemanasan tersebut mempunyai
pengaruh yang sama dengan pengadukan.
c. Koefisien
difusi berbanding lurus dengan suhu absolut dan berbanding terbalik dengan
kekentalan, hingga kenaikan suhu akan berpengaruh pada kecepatan difusi.
Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat apabila suhu dinaikkan.
d. Jika
cairan penyari mudah menguap pada suhu yang digunakan, maka perlu dilengkapi
dengan pendingin balik, sehingga cairan penyari yang menguap akan kembali ke
dalam bajana.
Maserasi dengan mesin pengaduk.
Pengaduk
berputar terus-menerus, waktu proses masersi dapat dipersingkat menjadi 6-24
jam.
Remaserasi
Cairan
penyari dibagi 2. Seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari pertama,
sesudah dienap tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan
penyari yang kedua.
Maserasi
melingkar.
Maserasi
dapat diperbaiki dengan mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak dan
menyebar. Dengan cara ini penyari selalu mengalir kembali secara
berkesinambungan melalui serbuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya.
Keuntungan
cara ini :
a. Aliran
cairan penyari mengurangi lapisan batas
b. Cairan
penyari akan didistribusikan secara seragam sehingga akan memperkecil kepekaan
setempat
c. Waktu
yang diperlukan lebih pendek.
Maserasi melingkar bertingkat
Pada
maserasi melingkar penyarian tidak dapat dilaksanakan secara sempurna, karena
pemindahan massa akan berhenti bila keseeimbangan telah terjadi. Masalah
ini dapat diatasi dengan maserasi melingkar bertingkat (MMB).
Cairan-cairan penyari yang cocok untuk metode maserasi. Pelarut merupakan
senyawa yang bisa melarutkan zat sehingga bisa menjadi sebuah larutan yang bisa
diambil sarinya.

II.3.5 Perkolasi
Perkolasi adalah proses penyarian
simplisia dengan jalan melewatkan pelarut yang sesuai secara lambat pada
simplisia dalam suatu percolator. Perkolasi bertujuan supaya zat berkhasiat
tertarik seluruhnya dan biasanya dilakukan untuk zat berkhasiat yang tahan
ataupun tidak tahan pemanasan. Prinsip perkolasi adalah sebagai berikut: serbuk
simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi
sekat berpori. Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk
tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai
mencapai keadaan jenuh. Gerak kebawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya
sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung
untuk menahan. Kekuatan yang berperan pada perkolasi antara lain: gaya berat,
kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosa, adesi, daya kapiler
dan daya geseran (friksi).
Secara umum proses perkolasi
ini dilakukan pada temperatur ruang. Sedangkan parameter berhentinya penambahan
pelarut adalah perkolat sudah tidak mengandung senyawa aktif lagi. Pengamatan
secara fisik pada ekstraksi bahan alam terlihat pada tetesan perkolat yang
sudah tidak berwarna.
Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi
karena:
a.
Aliran cairan penyari menyebabkan
adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih
rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.
b.
Ruangan diantara serbuk-serbuk
simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari.karena kecilnya
saluran kapiler tersebut,maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan
batas,sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.
Perkolasi Bertingkat
Dalam proses perkolasi biasa,
perkolat yang dihasilkan tidak dalam kadar yang maksimal. Selama cairan penyari
melakukan penyarian serbuk simplisia, maka terjadi aliran melalui lapisan
serbuk dari atas sampai ke bawah disertai pelarutan zat aktifnya. Proses
poenyaringan tersebut akan menghasilkan perkolat yang pekat pada tetesan
pertama dan terakhir akan diperoleh perkolat yang encer.
Untuk memperbaiki cara perkolasi tersebut dialkukan cara
perkolasi bertingkat. Serbuk simplisia yang hampir tersari sempurna sebelum
dibuang, disari dengan cairan penyari yang baru. Hal ini diharapkan agar serbuk
simplisia tersebut dapat tersari sempurna. Sebaliknya serbuk simplisia yang
baru disari dengan perkolat yang hampir jenuh, dengan demikian akan diperoleh
perkolat akhir yang jernih. Perkolat dipisahkan dan dipekatkan.
Cara ini cocok bila digunakan untuk perusahaan obat tradisional, termasuk perusahaan yang memproduksi sediaan galenik. Agar dioperoleh cara yang tepat, perlu dilakukan percobaan pendahuluan.
Cara ini cocok bila digunakan untuk perusahaan obat tradisional, termasuk perusahaan yang memproduksi sediaan galenik. Agar dioperoleh cara yang tepat, perlu dilakukan percobaan pendahuluan.
Dengan percobaan tersebut dapat ditetapkan :
1.Jumlah percolator yang diperlukan
2.Bobot serbuk simplisia untuk tiap kali perkolasi
3.Jenis cairan penyari
4.Jumlah cairan penyari untuk tiap kali perkolasi
5.Besarnya tetesan dan lain-lain.
Percolator yang digunakan untuk cara
perkolasi ini agak berlainan dengan percolator biasa. Percolator ini harus
dapat diatur, sehingga:
1.
Perkolat dari suatu percolator dapat
dialirkan ke percolator lainnya.
2.
Ampas dengan mudah dapat
dikeluarkan.Percolator diatur dalam suatu deretan dan tiap percolator berlaku
sebagai percolator pertama.

II.5 Fraksinasi
Fraksinasi merupakan suatu prosedur
yang digunakan untuk memisahkan golongan utama kandungan yang satu dari
kandungan golongan utama yang lainnya. Fraksinasi merupakan prosedur pemisahan
komponen-komponen berdasarkan perbedaan kepolaran tergantung dari jenis senyawa
yang terkandung dalam tumbuhan.
Dalam metode fraksinasi pengetahuan mengenai sifat senyawa
yang terdapat dalam ekstrak akan sangat mempengaruhi proses fraksinasi. Oleh
karena itu, jika digunakan air sebagai pengekstraksi maka senyawa yang
terekstraksi akan bersifat polar, termasuk senyawa yang bermuatan listrik. Jika
digunakan pelarut non polar misalnya heksan, maka senyawa yang terekstraksi
bersifat non polar dalam ekstrak. Pada prakteknya dalam melakukan fraksinasi
digunakan dua metode yaitu dengan menggunakan corong pisah dan kromatografi
kolom.
Corong
pisah adalah peralatan laboratorium yang digunakan dalam ekstraksi cair-cair
untuk memisahkan komponen-komponen dalam suatu campuran antara dua fase pelarut
dengan densitas yang berbeda yang tak tercampur.
Umunya salah satu fase berupa larutan air dan yang lainnya
berupa organiklipofilik seperti eter, MTBE, diklorometana, kloroforom, ataupun
etilasetat. Kebanyakan pelarut organik berada di atas fase air kecuali pelarut
yang memiliki atom dari unsur halogen. Pemisahan ini didasarkan pada tiap bobot
dari fraksi, fraksi yang lebih berat akan berada pada bagian dasar sementara
fraksi yang lebih ringan akan berada di atas. Tujuannya untuk memisahkan
golongan utama kandungan yang satu dari kandungan yang lain. Senyawa yang
bersifat polar akan masuk ke pelarut polar dan senyawa non polar akan masuk ke
pelarut non polar.
Corong pemisah berbentuk kerucut yang ditutupi setengah
bola, mempunyai penyumbat di atasnya dan di bawahnya. Corong pemisah yang
digunakan dalam laboratorium terbuat dari kaca borosilikat dan kerannya terbuat
dari kaca ataupun teflon. Ukuran corong pemisah bervariasi antara 50 ml sampai
3 L. Dalam skala industri, corong pemisah bisa berukuran sangat besar dan
dipasang sentrifuge.
Untuk memakai corong ini, campuran dan dua fase pelarut
dimasukkan kedalam corong dari atas dengan corong keran ditutup. Corong ini
kemudian ditutup dan digoyang dengan kuat untuk membuat dua fase larutan
tercampur. Corong ini kemudian dibalik dan keran dibuka untuk melepaskan
tekanan uap yang berlebihan. Corong ini kemudian didiamkan agar pemisahan
antara dua fase berlangsung. Penyumbat dan keran corong kemudian dibuka dan dua
fase larutan ini dipisahkan dengan mengontrol keran corong.
II.6 Kromatografi
Kromatografi adalah teknik
pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen
campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase
gerak (cair atau gas). Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa
terdapat dua komponen penting dalam kromatografi yaitu fase diam (padat
atau cair) dan fase gerak (cair atau gas).
Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu
kolom, perbedaan kemampuan adsorpsi terhadap zat - zat yang sangat mirip
mempengaruhi resolusi zat terlarut dan menghasilkan apa yang disebut
kromatogram (Khopkar, 2008).
Kromatografi melibatkan pemisahan
terhadap campuran berdasarkan perbedaan-perbedaan tertentu yang dimiliki oleh
senyawanya. Perbedaan yang dapat dimanfaatkan meliputi kelarutan dalam berbagai
pelarut serta sifat polar. Kromatografi biasanya terdiri dari fase diam (fase
stasioner) dan fase gerak (fase mobile). Fase gerak membawa komponen suatu
campuran melalui fase diamdan fase diam akan berikatan dengan komponen tersebut
dengan afinitas yang berbeda-beda. Jenis kromatografi yang berlainan bergantung
pada perbedaan jenis fase, namun semua jenis kromatografi tersebut berdasar
pada asas yang sama.
II.6.1
Kromatografi Lapis Kertas
Teknik kromatografi
kertas diperkenalkan oleh Consden, Gordon dan Martin (1994), yang menggunakan
kertas saring sebagai penunjang fase diam. Kertas merupakan selulosa murni yang
memiliki afinitas terhadap air atau pelarut polar lainnya. Bila air
diadsorbsikan pada kertas, maka akan membentuk lapisan tipis yang dapat
dianggap analog dengan kolom. Lembaran kertas berperan sebagai penyangga dan
air bertindak sebagai fase diam yang terserap di antara struktur pori kertas.
Cairan fase bergerak yang biasanya berupa campuran dari pelarut organik dan
air, akan mengalir membawa noda cuplikan yang didepositkan pada kertas dengan
kecepatan yang berbeda. Pemisahan terjadi berdasarkan partisi masing-masing
komponen di antara fase diam dan fase bergeraknya. Kromatografi kertas
digunakan baik untuk analisis kualitatif maupun kuntitatif. Senyawa - senyawa
yang dipisahkan kebanyakan bersifat sangat polar, misalnya asam amino, gula -
gula, dan pigmen - pigmen alam (Yazid, 2005).
Dalam
teknik kromatografi kertas, proses pengeluaran asam mineral dari kertas disebut
desalting. Larutan ditempatkan pada kertas dengan menggunakan mikropipet pada
jarak 2-3 cm dari salah satu ujung kertas dalam bentuk coretan garis
horizontal. Setelah kertas dikeringkan, diletakkan di ruang yang sudah
dijenuhkan dengan air atau dengan pelarut yang sesuai. Penjenuhan dapat
dilakukan 24 jam sebelum analisis. Descending adalah salah satu teknik di mana
cairan dibiarkan bergerak menuruni kertas akibat gravitasi. Pada teknik
ascending, pelarut bergerak ke atas dengan gaya kapiler. Nilai Rf harus sama
baik pada descending maupun ascending. Sedangkan yang ketiga dikenal sebagai
cara radial atau kromatografi kertas sirkuler. Kondisi - kondisi berikut harus
diperhatikan untuk memperoleh nilai Rf yang reprodusibel. Temperatur harus
dikendalikan dalam variasi tidak boleh lebih dari 0,5oC. Kertas
harus didiamkan dahulu paling tidak 24 jam dengan atmosfer pelarutnya, agar
mencapai kesetimbangan sebelum pengaliran pelarutnya pada kertas. Dilakukan
beberapa pengerjaan yang parallel, Rfnya tidak boleh berbeda lebih dari 0,02
(Khopkar, 2008).
II.6.3 Kromatografi Kolom
Terjadinya proses pemisahan dapat dengan cara :
1. Adsorpsi - Adsorpsi komponen atau
senyawa diantara permukaan padatan dengan cairan (solid liquid interface) -
Agar terjadi pemisahan dengan baik, maka komponen-komponen tersebut harus
mempunyai afinitas yang berbeda terhadap adsorben dan ada interaksi antara
komponen dengan adsorben.
2. Partisi - Fase diam dan fase gerak
berupa cairan yang tidak saling bercampur - Senyawa yang akan dipisahkan akan
berpartisi antara fase diam dan fase gerak. Karena fase diam memberikan daerah
yang sangat luas bagi fase gerak, maka pemisahan berlangsung lebih baik.
Penyiapan
kolom
Pemilihan ukuran kolom a. Tergantung jumlah sampel yang akan
dipisahkan, perbandingan adsorben-cuplikan (30:1) b. Perbandingan panjang
dengan diameter kolom (10-15:1) c. Untuk sampel yang multikomponen yang
mempunyai afinitas yang sama terhadap adsorben maka dipilih kolom yang panjang,
sedangkan untuk komponendengan afinitas yang berbeda terhadap adsorben maka
dipilih kolom yang pendek.
Cara
melakukan adsorben ke dalam kolom: 1. Metode kering 2. Metode basah 3. Metode
bubur/lumpuran
Penggunaan
kolom
1.
Sebelum
dilakukan elusi, kolom dibasahi dulu dengan sejumlah fase gerak yang akan
digunakan.
2.
Sampel
dimasukkan ke dalam kolom dalam bentuk padat maupun cair Sampel bentuk padat :
• Dicampur dengan adsorben sampai merata, kemudian dengan hati-hati dimasukkan
ke dalam kolom yang sudah berisi adsorben • Pada kromatografipartisi, sampel
dilarutkan dalam fase diam, kemudian dicampur dengan bahan penyangga, baru
ditempatkan di atas adsorben Sampel bentuk cair : Dilarutkan/dicampur dengan
fase gerak, kemudian dengan hati-hati dimasukkan ke dalam kolom yang sudah
berisi adsorben.
3.
Setelah
sampel masuk kolom, biasanya dilakukan pencucian terlebih dahulu baru dielusi
dengan fase gerak. Untuk mendapatkan hasil elusi yang baik, umunya kecepatan
fase gerak diatur 1-5 ml/menit.
4.
Setelah
elusi selesai, kromatogram dapat dideteksi dengan : - Berdasarkan warna sampel,
bila yang dielusi berwarna - Dengan sinar UV 366nm - Disemprot dengan
larutan/reagen penampak bercak.
BAB III
PENATALAKSANAAN PRAKTIKUM
III.I ALAT DAN BAHAN
a.
Alat
·
Lumping dan stanfer
·
Timbangan analitik
·
Gelas ukur
·
Pipet tetes
·
Beaker gelas
·
Serangkaian Alat refluks
·
Corong pisah
·
Rotary evaporator
·
Hot plate
·
Alat penampak noda
·
Kolom
·
Plat silica
b.
Bahan
·
Buah merica
·
Buah pala
·
Methanol
·
Kloroform
·
N-heksana
·
Aquadest
·
Etil asetat
·
Serbuk silica
·
Asam asetat anhidrat
·
Ammonia
·
Ferri klorida logam magnesium
·
Asam klorida
·
Reagen mayer
III.2 SKRINING FITOKIMIA SAMPEL TUMBUHAN
III.2.1 UJI KANDUNGAN ALKALOID
Potong sampel
kecil-kecil sebanyak 2gram, kemudian gerus dengan menambahkan 5ml kloroform,
setelah halus tambahkan 5ml kloroformm amoniak 0.05M, digerus lagi perlahan.
Saring larutan dengan meletakkan kapas didalam lumping, masukkan hasil saringan
kedalam tabung reaksi. Tambahkan 10tetes asam sulfat 2N dan kocok perlahan,
biarkan sejenak hingga terbentuk lapisan asam dan lapisan kloroform. Kemudian
ambil lapisan asam lalu masukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan pereaksi
mayer. Reaksi positif terjadi bila adanya kabut putih hingga gumpalan putih
atau endapan putih.
III.2.2 UJI KANDUNGAN TERPENOID,STEROID, FLAVONOID, FENOLIK DAN SAPONIN
Timbang sampel sebanyak
5gram, kemudian dirajang dan dimasukkan kedalam Erlenmeyer.tambahkan methanol
sampai terendam. Panaskan selama 15menit diatas hot plate. Saring larutan
menggunakan kapas kedalam tabung reaksi. Panaskan tabung reaksi sampai semua
pelarut menguap. Lalu tambahkan kloroform:aquadest (1:1) sebanyak 5ml. kocok
perlahan. Kemudian diamkan sampai terbentuk dua lapisan yaitu lapisan kloroform
dan lapisan air. Pisahkan lapisan kloroform dan lapisan air kedalam tabung rx
masing masing.
1. Uji
kandungan terpenoid dan steroid
Ambil lapisan
kloroform, masukkan kedalam pipet tetes yang sudah berisi norit. Lewatkan lapisan
kloroform didalam pipet tersebut, tamping dan teteskan kedalam dua lobang plat
tetes yang sudah disediakan. Lapisan jernih yang didapat ditambahkan dengan
asam sulfat pekat 2tetes dan asam asetat anhidrat masing-masingnya. Perhatikan
perubahan warna yang terbentuk. Warna merah untuk mengindikasikan adanya
terpenoid sedangkan warna biru/ hujau untuk steroid.
2. Uji
kandungan flavonoid
Ambil lapisan air,
letakkan di plat tetesb , kemudian tambahkan sedikit logam Mg dan satu tetes
hcl pekat. Perhatikan perubahan warna yang terbentuk. Warna jingga sampai mera
mengidikasikan adanya senyawa golongan flavonoid.
3. Uji
kandungan fenolik
Ambil lapisn air,
letakkan di plat tetes, kemudian tambahkan beberapa tetes ferri klorida. Amati
perubahan warna yang terjadi. Warna ungu sampai biru kehitaman mengindikasikan
adanya senyawa fenolik
4. Uji
kandunga saponin
Ambil lapisan air, masukkan kedalam
tabung reaksi, lalu kocok beberapa saat, diamkan lalu perhatikan busa yang
terbentuj. Positif saponin jika busa bertahan lama.
III.3 ISOLASI SENYAWA ALKALOID DARI BUAH MERICA
1.
Penyiapan Sampel
a. Timbang
buah merica sebanyak 100gram
b. Haluskan
menggunakan lumping dan stamfer
2.
Ekstraksi sampel
a. Masukkan
sampel kedalam refluks
b. Tambahkan
methanol sebanyak 200ml, tambahkan batu didih secukupnya
c. Rangkai
alat refluks
d. Nyalakan
hot plate
e. Ekstraksi
selama 60menit
f. Saring
ekstrak cair yang diperoleh, pekatkan menggunakan rotary evaporator
g. Timbang
berat ekstrak yang diperoleh
h. Hitung
rendemen ekstrak yang didapat
3.
Fraksinasi sampel
a. Timbang
10gr ekstrak, masukkan kedalam corong pisah
b. Tambah
50ml n-heksana dan 50ml aquadest
c. Kocok
searah angka delapan
d. Diamkan
sampai terbentuk 2 lapisan
e. Pisahkan
lapisan air dengan lapisan n-heksana
f. Masukkan
lagi lapisan air kedalam corong pisah, fraksinasikan lagi dengan 50ml n-heksana
dengan kerja yang sama
g. Lapisan
n-heksana yang telah dikumpulkan lalu di pekatkan dengan rotary evaporator,
hitung berat fraksi n-heksana yang diperoleh
h. Hitung
berat rendemen fraksi n-heksana terhadap ekstak
i.
Masukkan lapisan air tadi kedalam corong
pisah fraksinasikan menggunakan kloroform dengan kerja yang sama hingga didapat
fraksi kloroform
j.
Hitung berat fraksi kloroform dan
rendemennya terhadap ekstrak
4.
Isolasi dengan metoda kromatografi
a. Analisa
komponen senyawa ekstrak dan fraksi menggunakan kromatografi lapis tipis
·
Potong plat klt dengan panjang 5cm dan
lebar 2.5 cm
·
Berikan garis batas atas dan batas bawah
dengan jarak 0.5cm dari ujung plat
·
Tandai tempat totolan untuk masing-masing
sampel baik ekstrak maupun faksi pada plat yang sama
·
Siapkan eluen yang digunakan berupa
campuran n-heksana dan etil asetat (1:1)
·
Masukkan eluen ke dalam bejana , tutup
bejana dan lakukan penjenuhan
·
Larutkan ekstrak dan fraksi menggunakan
pelarut yang telah dijenuhkan , totolkan dengan penotol pada garis bawah yang
sudah dibuat
·
Elusikan dalam wadah sampai garis atas
·
Angkat plat tersebut, kering anginkan
lalu lihat noda yang ada di bawah lampu uv 254 dan 366nm
·
Tandai noda menggunakan pensil, dan hitung
rf masing-masing noda
b. Isolasi
senyawa menggunaakan kromatografi kolom
·
Siapkan kolom kaca, statif dan klem
·
Lakukan packing kolom dengan cara
membuat bubur silica dengan n-heksana masukkan bubur silica kedalam kolom, lalu
padatkan
·
Lakukan perabsorbsi sampel dengan silica
gel
·
Masukkan sampel kedalam kolom. Elusi
dengan eluen yang di siapkan
·
Tamping hasil vial yang telah di nomori
·
Lakukan pemeriksaan profil klt hasil
kolom menggunakan eluen yang sesuai
c. Pemurnian
senyawa hasil isolasi
·
Pilih hasil kolom yang berbentuk
padatan, Kristal atau minyak dengan profil klt noda sederhana
·
Lakukan pemurnian dengan jalan pencucian
dengan pelarut yang susai atau dengan kristalisasi
5.
Karakterasi dan identifikasi senyawa
hasil isolasi
a. Pemeriksaan
titik leleh menggunakan alat melting point apparatus
b. Pemeriksaan
profil klt
|
Tabel
hasil skrining fitokimia
|
|||||||
|
NO
|
SAMPEL
TUMBUHAN
|
METABOLIT
SEKUNDER GOLONGAN
|
|||||
|
ALKALOID
|
TERPENOID
|
STEROID
|
FLAVONOID
|
FENOLIK
|
SAPONIN
|
||
|
1
|
Daun pulai (alstonia scholaris)
|
-
|
-
|
+
|
+
|
+
|
+
|
|
2
|
Daun pegagan (centella asiatica)
|
-
|
+
|
+
|
+
|
+
|
+
|
|
3
|
Buah lada hitam (piper ningrum)
|
+
|
+
|
-
|
-
|
-
|
+
|
|
4
|
Buah Pala (myristica fragrans)
|
+
|
+
|
-
|
-
|
+
|
-
|
|
5
|
Daun Pandan (pandanus sp)
|
+
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
6
|
Kembang Sepatu (hibiscus rosasinensis )
|
-
|
-
|
+
|
-
|
-
|
-
|
|
7
|
Manggis
|
+
|
-
|
-
|
+
|
+
|
-
|
|
8
|
Daun Pucuk merah (syzygium oleana)
|
-
|
-
|
-
|
+
|
+
|
-
|
|
9
|
Daun Sirih (piper bettle)
|
-
|
+
|
+
|
-
|
-
|
+
|
|
10
|
rimpang temulawak (curcuma xanthoriza)
|
-
|
+
|
-
|
-
|
-
|
-
|
IV.2 Hasil ekstraksi sampai kolom
a.
Rendemen Ekstrak dan fraksi
Berat
ekstrak yang didapat =150,7303
Berat
ekstrak awal =63,8304
%
Rendemen =
Hasil
fraksinasi 
b.
Profil KLT dan fraksi
Diketahui
:
Noktah
dari ekstrak =1.6cm
Noktah
dari kloroform =1.9cm
Noktah
dari n-heksana =2.4cm
Jarak
pelarut = 4cm
Rf
ekstrak 
=0.4
Rf
kloroform 
=0.47
Rf n-heksana

=0.6
c.
Profil klt hasil kolom
Ekstrak fraksi
Rf
ekstrak 
=0.5
Vial
6 
=0.375
Vial
11 
=0.375
Vial
31 = 
=0.5
Vial
41 
=0.5
Vial
46 
=0.5
Pada
praktikum kali ini adalah praktikum tentang uji fitokimia dimana kelompok kami
mendapatkan sampel lada hitam (piper
ningrum L) dan buah pala (myristica fragrans). uji fitokimia adalah untuk mengetahui metabolit sekunder
yang ada di dalam buah pala dan lada hitam. Tujuan diketahuinya kandungan dari pada
buah pala dan lada hitam adalah untuk mengelompokkan senyawa metabolit sekunder
yang ada pada senyawa tersebut. Dimana lada hitam diketahui memiliki kandungan
alkaloid, terpenoid dan saponin. Sedangkan buah pala memiliki kandungan
alkaloid , terpenoid, dan fenolik. Dimana dari hasil uji fitokimia dari lada
hitam dan buah pala ini kami menggunakan lada hitam untuk menguji alkaloid nya
sebagai senyawa spesifik di dalam lada hitam, lada hitam pengujian nya hanya
sampai mengetahui apa saja kandungan yang ada didalamnya.
Setelah
dilakukan uji skrining fito kimia dilakukan isolasi senyawa alkaloid dari buah
merica (Piper nigrum L). Alkaloid
adalah senyawa organik yang terdapat di alam bersifat basa atau alkali dan
sifat basa ini disebabkan karena adanya atom N (Nitrogen) dalam molekul senyawa
tersebut dalam struktur lingkar heterosiklik atau aromatis, dan dalam dosis
kecil dapat memberikan efek farmakologis pada manusia dan hewan.
Alkaloid juga adalah suatu golongan senyawa organik yang
terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari
tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua
alkaloida mengandung paling sedikit satu atom nitrogen.
Hampir semua alkaloida yang ditemukan di alam mempunyai
keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang
sangat berguna dalam pengobatan. Misalnya kuinin, morfin dan stiknin adalah
alkaloida yang terkenal dan mempunyai efek sifiologis dan fisikologis.
Alkaloida dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun,
ranting dan kulit batang. Alkaloida umunya ditemukan dalam kadar yang kecil dan
harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan
tumbuhan.
Dengan cara mengekstraksi sampel
padat sebnyak 100gram menggunakan alat
refluks dan ditambahkan methanol sebanyak 200ml dan ditambahkan batu didih.
Batu dididh berguna untuk membuat panasnya lebih merata. Lalu rangkai alat
refluks dan hidupkan heating mantel lalu diekstraksi selama 60menit hingga ada
tetesan yang menetes dari ujung alat (destilat). Jika hasil ekstak kira-kira
sudah banyak di pekatkan menggunakan rotary evaporator. Fungsi rptary
evaporator adalah memisahkan ekstrak dengan pelarut dengan menurunkan tekanan
sehingga pelarut bias menguap dibawah titik didih nya, sehingga zat aktif yang
akan kita isolasi tidak rusak karna tingginya suhu pemanasan. Setelah larutan destilat sudah
dipekatkan didapatkan lah ekstrak buah lada hitam. Ekstrak ini ditimbang dan
hitung rendemen ekstrak yang di peroleh. Setelah ditimbang rendemen di dapatlah
.
Lalu langkah selanjutnya adalah
melakukan fraksinasi sampel ekstrak buah merica. Fungsi fraksinasi adalah
engelompokkan senyawa ekstrak berdasarkan kepolarannya. Sampel ditimbang 10gram
lalu larutkan dengan aquadest sebanyak 30ml, lalu masukkan kedalam corong pisah
jika masih ada yang tidak larut larutkan lagi dengan aquadest 20ml, masukkan
semuanya kedalam corong pisah. Lalu tambahkan 50ml n-heksana dan di gojog
searah angka delapan selama beberapa saat, lalu letakkan corong pisah di statif
dan klem yang sudah di pasangkan hingga larutan berpisah menjadi 2 lapisan,
setelah terjadi 2 lapisan keluarkan lapisan air dan n-heksan secara terpisan
lapisan bawah adalah air dan lapisan atas adalah n-heksan. Lapisan n-heksan di
letakkan di beaker glass dan ditutup. Lapisan air di masukkan lagi kedalam
corong pisah lalu tambahkan lagi n-heksan sebanyak 50ml lalu ulangi cara tadi.
Setelah dilakukan sebanyak 3 kali, didapatkan lah larutan polar dan non polar.
Larutan polar dimasukkan lagi kedalam corong pisah, kali ini dengan menambahkan
kloroform sebanyak 50, lalukan cara seperti heksan sebanyak 3kali pengulangan.
Setelah selesai di dapatlah 3 fraksi lada hitam yaitu fraksi n-heksan , fraksi
kloroform dan fraksi air.
Setelah didapatkan 3 fraksi (air,
n-heksan dan kloroform) kami menggunakan fraksi kloroform untuk dilakukan
pemekatan, setelah selesai di pekat kan kami melakukan analisa komponen senyawa
ekstrak dan fraksi menggunakan kromatografi lapis tipis. Kromatografi
melibatkan pemisahan terhadap campuran berdasarkan perbedaan-perbedaan tertentu
yang dimiliki oleh senyawanya. Perbedaan yang dapat dimanfaatkan meliputi
kelarutan dalam berbagai pelarut serta sifat polar. Kromatografi biasanya
terdiri dari fase diam (fase stasioner) dan fase gerak (fase mobile). Fase
gerak membawa komponen suatu campuran melalui fase diamdan fase diam akan
berikatan dengan komponen tersebut dengan afinitas yang berbeda-beda.
Didapatlah hasil fraksinasi sebanyak 1,295.
Disini kami menggunakan kromatografi
kertas dimana menggunakan selulosa yang bersifat polar sehingga senyawa yang
polar akan tertahan lebih lama disbanding senyawa lainnya. Fase gerak akan
membawa senyawa senyawa non polar dan semi polar sehingga noktah tertinggi
adalah noktah semi polar atau non polar. Sedang kan noktah terendah adalah
senyawa polar. Jika ada 2 noda dalam 1 arah maka senyawa itu bias dikatakan
belum murni, tetapi jika hanya ada 1 noda berati senyawa yang kita elusi sudah
murni. Dimana noktah ekstrak 1.6cm noda kloroform 1.9cm dan noktah n-heksan
2.4cm dimana jarak tempuh pelarut adalah 4cm. didapatlah nilai Rf ekstrak 0.4 ,
Rf kloroform 0.47, Rf heksana 0.6. Nilai Rf yang didapatkan adalah baik karna
kurang dari 0.8.
Setelah
dilakukan kromatografi kertas dilakukan kromatografi kolom. Tujuan kromatografi
kolom juga untuk mengelompokkan senyawa. Hal yang pertama dilakukan adalah
melakukan penyiapan kolom, statif dan klem. Fase diam yang digunakan adalah
bubur silica. Masukkan kapas sedikit kedalam leher kolom dan dibantu dengan lidi,
kapas berguna untuk menyaring yang akan masuk kedalam vial. Lalu Membuat bubur
silica dengan membasahi silica dengan n-heksan lalu dimasukkan kedalam kolom
menggunakan pipet tetes secara perlahan lahan. Lalu setelah kolom penuh buka
keran yang di kolom agar n-heksan mengaliri semua pori dari silica, tambah
terus n-heksan jangan sampai silica kering karna bias menyebabkan buih di dalam
silica, setelah 10 menit di elusi dengan n-heksan lakukan pre absorbsi. masukkan ekstrak kedalam kolom lalu tambahkan
n-heksan dan buat variasi pelarut. Variasi perbandingan pelarutnya adalah
n-heksan banding etil asetat yaitu n-heksan 100% , 9:1 , 8:2 , 7:3 , 6:4 dan
etil 100%. Setiap pelarut akan mengaliri
asilica dan di tamping oleh vial yang sudah di nomori dan di dapatlah 46 vial.
Lalu dilakukan kromatografi sehingga didapkan lah 5 fraksi.
Dari praktikum fitokimia ini yang dilakukan
di lab kimia bahan alam di stifar dapat disimpulkan bahwa
1.
Skrining fitokimia adalah tahapan awal untuk mengidentifikasi
kandungan kimia yang terkandung dalam tumbuhan, krna pada tahap ini kita bisa
mengetahui golongan senyawa kimia yang dikandung tumbuhan yang sedang kita
uji/teliti.
2.
Metabolit
sekunder yang ada pada tanaman adalah alkaloid, fenolik, terpenoid, saponin,
flavonoid, steroid,dll
3.
Sampel yang digunakan adalah buah pala
dan lada hitam
Buah
pala memiliki kandungan: alkaloid, terpenoid, dan fenolik
Lada
hitam memiliki kandungan: alkaloid, terpenoid, dan saponin
4.
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang
terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari
tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan.
5.
Fraksi
yang didapat kan adalah fraksi air , fraksi n-heksan dan fraksi kloroform
6.
%
rendemen ekstrak yang didapat adalah 236.7303%
7.
Rf
masing masing fraksi
Rf ekstrak 0.4
Rf kloroform 0.47
Rf heksana 0.6
8.
Didapat 5 fraksi dalam kromatografi
kolom
Suwarni Elis,
Cahyaningsih Erna, Meriyani Herleeyana. 2015. Penuntun Praktikum
Fitokimia. Akademi Farmasi Saraswati Denpasar
Harborne.
J.B.,1987. Metode Fitokimia , terjemahan K. Radmawinata dan I.
Soediso, 69-94, 142-158, 234-238. Bandung : ITB Press
Hariana, Arief, H, DRS, 2007, Tumbuhan
Obat dan Khasiatnya, Penebar Swadaya, Depok (73).
Wiryowidagdo, Sumaali, Prof, 2007, Kimia
dan Farmakologi Bahan Alam, Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
Amaliana, Lia, Nur, 2008, Uji
Sitotoksik Ekstrak Etanol 70 % Buah MericaHitam (Piper Nigrum L.) Terhadap Sel
Hela, Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Howard, Ansel, C, 1989, Pengantar
Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta
\
Sastrohamidjojo, Hardjono, 1996, SumberBahan
Alam, UGM Press, Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar